Senin, 31 Agustus 2015

IQ VS EQ

Berdasarkan surve di Amerika serikat pada 1918 tentang IQ, ditemukan “paradoks” membabayakan yaitu skor IQ anak-anak makin tinggi, kecerdasan mereka justu turun. Lebih mengkhawatirkan lagi data hasil surve besar-besaran 1970 dan 1980 terhadap pada orangtua dan gurumenunjukan, “ anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi ketimbang generasi terdahulunya. Secara pukul rata anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, mudah marah dan sulit diatur, lebih gugup dan mudah cemas; impulsif dan agresif.
Survei tersebut kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap ratusan ribu pekerja, dari level bawah hinggga eksekutif puncak penelitin ini mencakup perusahaan-perusahaan basar sekelas AT&T di Amerika Serikat hingga perusahaan kecil, bahkan wirausahawan. Dalam pengkajiannya ditemukan suatu inti kemauan pribadi dan sosial yang sama, yang terbukt menjadi kunci utama keberhasilan, yaitu kecerdasan emosianal.
Telah terbukti secara ilmiah bahwa kecerdasan emosi memegang pern penting dalam mencapai keberhasilan di segala bidang. Menurut Robrt K Cooper PhD, hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang terdalam, mengubah diri dari suatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati menpu mengetahui hal-hal yang tidak boleh atau tidak dapat diketahui oleh pikiran kita. Hati adalah sumber keberaniandan semangat, integritas serta komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntun kita  untuk melakukan pembelajaran , menciptakan kerja sama , memimpin , serta melayani.

Senin, 08 Juni 2015

penyakit filariasis

Pengobatan Masal Dengan Implementasi Unit Perkabupaten

(Filariasis)

A. Pendahulan

 Limphatik filariasis (LF) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakitmenular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan kelamin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelahitu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasistersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang.Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata.Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan program Indonesia Sehat berkeadilan Tahun 2015 dapat terwujud salah satunyaa dalah terbebas dari endemi filariasis.
Penyakit kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing filaria yang menyumbat pembulurh darah   sehingga mengakibatkan pembengkakan. Cacing  filaria  terdapat  didalam  tubuh  nyamuk  culex  yang  biasa berkembang biak di air kotor yang tergenang seperti got, comberan, dan rawa. Untuk mencegahnya yaitu mengalirkan air agar tidak ada nyamuk yang bertelur di tempat tersebut.
Alur  penularan  penyakit  kaki  gajah  dapat  dijelaskan  pada  diagram dibawah ini
Nyamuk bertelur dan menetas
 
Air Tergenang
 
Menghisap darah orang sehat
 
Orang sehat menjadi sakit “FIlaria”
 
 


 



Latar Belakang

Untuk memberantas filariasis sampai tuntas, WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by The Year 2020 ) yaitu program pengeliminasian filariasis secara masal. Program ini dilaksanakan melalui pengobatan masal dengan DEC  dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasikan yang endemis dan perawatan kasus klinis untuk mencegah kecacatan. WHO sendiri telah menyatakan filariasis sebagai urutan kedua penyebab cacat permanen di dunia. Di Indonesia sendiri, tela h melaksanakan eliminasi filariasis secara bertahap dimulai pada tahun 2002  di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahunnya.
Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini sebagai secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebarab filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya diharapkan program Indonesia Sehat dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari endemi filariasis.
Pengobatan massal filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan, setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005). Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk, sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).
Tujuan pengobatan massal adalah memutus rantai penularan filariasis dengan menurunkan mikrofilaria rate menjadi < 1 % dan menurunkan kepadatan rata-rata mikrofilaria dalam darah. Pengobatan massal filariasis untuk sementara ditunda bagi anak berusia kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, orang yang sedang sakit berat, penderita kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut, anak dengan marasmus atau kwashiorkor, lanjut usia. Dosis obat ditentukan berdasarkan kelompok umur sesuai tabel di bawah ini (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).



Pembahasan

·      Pengertian Filariasis

Filariasis ( penyakit kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki – laki.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Pada Wuchereria Bancrofti, mikrofilarianya berukuran ± 250µ, cacing betina dewasa berukuran panjang 65 – 100 mm dan cacing jantan dewasa berukuran panjang ± 40 mm ( Juni Prianto L. A . dkk., 1999 ). Diujung daerah kepala membesar, mulutnya berupa lubang sederhana tanpa bibir ( Oral stylet ), sedangkan pada Brugia Malayi dan Brugia Timori, mikrofilnya berukuran ± 280µ. Cacing dewasa jantan panjangnya 23 mm dan cacing betina dewasa panjangnya 39 mm ( Juni Prianto L. A . dkk., 1999 ). Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya. Aktifitas mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan pada siang hari. Pada malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam sistem pembuluh darah tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler paru – paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain. Pada umumnya laki – laki lebih  mudah terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan mendapat infeksi ( eksposure ). Hospes reservoar adalah hewan yang dapat menjadi hospes bagi cacing filaria, misalnya Brugia Malayi yang dapat hidup pada kucing, kera, kuda dan sapi.
Banyak spesies nyamuk yang ditemukan sebagai vektor filariasis, tergantung pada jenis cacing filarianya dan habitat nyamuk itu sendiri. Wuchereria Bancrofti yang terdapat di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus, menggunakan air kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya. Wuchereria Bancrofti yang ada di daerah pedesaan dapat ditularkan oleh berbagai macam spesies nyamuk. Di Irian Jaya,Wuchereria bancrofti terutama ditularkan oleh Anopheles farauti yang menggunakan bekas jejak kaki binatang untuk tempat perindukannya. Di daerah pantai di NTT, Wuchereria bancrofti ditularkan oleh Anopheles subpictus. Brugia malayi yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh berbagai spesies Mansoniaseperti Mansonia uniformis, Mansonia bonneae, dan Mansonia dives yang berkembang biak di daerah rawa di Sumatera, Kalimantan, dan Maluku. Di daerah Sulawesi, Brugia malayi ditularkan oleh Anopheles barbirostrisyang menggunakan sawah sebagai tempat perindukannya. Brugia timori ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang berkembang biak di daerah sawah, baik di dekat pantai maupun di daerah pedalaman. Brugia timori hanya ditemukan di daerah NTT dan Timor Timur.

·      Gejala klinis filariais antara lain adalah berupa :

1. Demam berulang-ulang selama 3 – 5 hari, demam dapat hilang bila beristirahat dan muncul kembali setelah bekerja berat.
2. Pembengkakan kelenjar limfe (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan. Diikuti dengan radang saluran kelenjar limfe yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung (Retrograde lymphangitis) yang dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah.
3. Pembesaran tungkai, buah dada, dan buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (Early lymphodema). Gejala klinis yang kronis berupa pembesaran yang menetap pada tungkai, lengan, buah dada, dan buah zakar tersebut.

Seseorang yang menderita filariasis dapat didiagnosis secara klinis dengan cara sebagai berikut :
1)  Deteksi parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah pada pemeriksaan sediaan darah tebal. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena mikrofilaria aktif pada malam hari dan banyak beredar dalam sistem pembuluh darah. Setelah membuat sedian darah maka dilakukan pemeriksaan sedian tersebut. Jika pada sediaan ditemukan mikrofilaria, maka orang tersebut telah terinfeksi cacing filaria.
2) Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum.

·      KRITERIA FILARIASIS

Filariasis mudah menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus elephantiasis, atau adanya 2 atau lebih kasus elephantiasis di suatu wilayah pada jarak terbang nyamuk yang mempunyai riwayat menetap bersama/berdekatan pada suatu wilayah selama lebih dari satu tahun. Berdasarkan ketentuan WHO, jika ditemukan mikro filarial rate ≥ 1% pada satu wilayah maka daerah tersebut dinyatakan endemis dan harus segera diberikan pengeobatan secara masal selama 5 tahun berturut-turut.
Di indonesia filarialis telah tersebar luas hampir di semua propinsi, berdasarkan laporan dari daerah dan hasil survey pada tahun 2000 tercatat sebanyak 6500 kasus kronis di 1553 desa pada 231 kabupaten atau 26 propinsi. Pada tahun 2005 kasus kronis dilaporkan sebanyak 10.237 orang yang tersebar di 373 kabupaten/kota di 33 propinsi.  Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tanggal 8 April 2002 Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan dimulainya eliminasi penyakit Kaki Gajah di Indonesia dan telah menetapkan eliminasi Kaki Gajah sebagai salah satu program prioritas. Sebagai pedoman Pengendalian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomer : 1582/ MENKES/SK/XI/2005 Tanggal 18 Nopember 2005.

·      Mekanisme Terjadinya Filariasis

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk tersebut mendapatkan mikrofilaria sewaktu menghisap darah penderita atau binatang reservoar yang mengandung mikrofilaria. Siklus penularan filariasis ini melalui dua tahap , yaitu mosquito satges atau tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk (vektor) danhuman stages atau tahap perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) atau binatang (hospes reservoar).
Di dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria berselubung (yang didapatkannya ketika menggigit penderita filariasis), akan melepaskan selubung tubuhnya yang kemudian bergerak menembus perut tengah lalu berpindah tempat menuju otot dada nyamuk. Larva ini disebut larva stadium I (L1). L1 kemudian berkembang hingga menjadi L3 yang membutuhkan waktu 12 – 14 hari. L3 kemudian bergerak menuju probisis nyamuk. Ketika nyamuk yang mengandung L3 tersebut menggigit manusia, maka terjadi infeksi mikrofilaria dalam tubuh orang tersebut. Setelah tertular L3, pada tahap selanjutnya di dalam tubuh manusia, L3 memasuki pembuluh limfe dimana L3 akan tumbuh menjadi cacing dewasa, dan berkembangbiak menghasilkan mikrofilaria baru sehingga bertambah banyak. Kumpulan cacing filaria dewasa ini menjadi penyebab penyumbatan pembuluh limfe. Aliran sekresi kelenjar limfe menjadi terhambat dan menumpuk di suatu lokasi. Akibatnya terjadi pembengkakan kelenjar limfe terutama pada daerah kaki, lengan maupun alat kelamin yang biasanya disertai infeksi sekunder dengan fungi dan bakteri karena kurang terawatnya bagian lipatan-lipatan kulit yang mengalami pembengkakan tersebut.

·      PENYEBAB FILARIASIS

Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia terutama dalam kelenjar getah bening dan darah. Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4 - 6 tahun dan dalam tubuh manusia cacing dewasa betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar dalam darah terutama malam hari.
     Penyebarannya diseluruh Indoensia baik di pedesaan maupun diperkotaan..Nyamuk merupakan vektor filariasis Di Indonesia ada 23 spesies nyamuk yang diketahui bertindak sebagai vektor dari genus: mansonia, culex, anopheles, aedes dan armigeres.
·      W. bancrofti perkotaan vektornya culex quinquefasciatus
·      W. bancrofti pedesaan: anopheles, aedes dan armigeres
·      B. malayi : mansonia spp, an.barbirostris.
·      B. timori : an. barbirostris.
Mikrofilaria mempunyai periodisitas tertentu tergantung dari spesies dan tipenya.Di Indonesia semuanya nokturna kecuali type non periodic Secara umum daur hidup ketiga spesies sama Tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan lingkungan habitatnya. ( Got, sawah, rawa, hutan ).


Cacing Dewasa Atau Makrofilaria
o  Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe
o  Ukuran 55 – 100 mm x 0,16 mm
o  Cacing jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm
o  Berkembang secara ovovivipar

Mikrofilaria
·         Merupakan larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu.
·         Mempunyai sarung. 200 – 600 X 8 um
Didalam tubuh nyamuk mikrofilaria yang diisap nyamuk akan berkembang dalam otot nyamuk.Setelah 3 hari menjadi larva L1, 6 hari menjadi larva L2, 8-10 hari untuk brugia atau 10 – 14 hari untuk wuchereria akan menjadi larva L3. Larva L3 sangat aktif dan merupakan larva infektif.ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk (tetapi tidak seperti malaria). Manusia merupakan hospes definitive Hampir semua dapat tertular terutama pendatang dari daerah non-endemik Beberapa hewan dapat bertindak sebagai hospes reservoir.

·      Faktor yang mempengaruhi :

·         Lingkungan fisik :Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,
·         Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang mempengaruhi penularan; hutan, reservoir, vector.
·         lingkungan social – ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat Istiadat, Kebiasaan dsb,
·         Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Getah Dsb.
Penularan dapat terjadi apabila ada 5 unsur yaitu sumber penular (manusia dan hewan), Parasit, Vektor, Manusia yang rentan, Lingkungan (fisik, biologik dan sosial-ekonomibudaya).

·      Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis

1. Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.
2. Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obatDiethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibat Brugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian DEC dan antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.
3. Upaya Rehabilitasi Filariasis
Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.



·      Cakupan Pengobatan Massal Filariasis

Cakupan pengobatan massal filariasis dilaporkan oleh TPE filariasis, puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menilai keberhasilan cakupan ini, yaitu:
A. Berdasarkan Total Penduduk di Kabupaten. Cakupan ini dapat menjelaskan jumlah penduduk yang beresiko untuk diobati dan aspek epidemiologinya.
Cakupan ini dibuat setiap tahun, dengan perhitungan sebagai berikut :
Jumlah penduduk minum obat di Kabupaten*100%
Jumlah seluruh penduduk di Kabupaten
B. Berdasarkan Jumlah Penduduk Sasaran Pengobatan di Kabupaten. Cakupan ini dapat menjelaskan efektivitas pengobatan massal.
Jumlah muinum obat di Kabupaten*100%
Jumlah penduduk sasaran pengobatan missal

·      Survei Cakupan Pengobatan Massal Filariasis

Tujuan dari survei cakupan adalah untuk menilai besarnya cakupan pengobatan massal yang dilaporkan TPE filariasis, puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksana survei cakupan yaitu Dinas Kesehatan Provinsi atau badan independen lainnya yang dilakukan satu bulan setelah pengobatan missal selesai. Survei ini dilaksanakan minimal satu kali selama putaran pengobatan massal.
Metoda yang digunakan adalah Cluster Survey (30 cluster) yang diadaptasi dari Expanded Programme on Immunization (EPI) WHO dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Hitung jumlah desa dan buat daftar nama-nama desa di Kabupaten/Kota yang akan disurvei.
b. Catat jumlah penduduk di setiap desa.
c. Hitung jumlah penduduk kumulatif setiap desa di Kabupaten/Kota.
d. Tentukan sampling interval dengan membagi jumlah penduduk total Kabupaten/Kota dengan 30.
e. Pilih angka pertama sebagai starting point dengan cara memilih secara acak angka dari 1 sampai dengan angka sampling interval. Di kolom desa yang mana letak angka yang terpilih tersebut, itulah desa pertama yang akan disurvei.
f. Tentukan desa selanjutnya yang akan disurvei dengan menambah starting point dengan sampling interval. Angka yang didapat kemudian ditambahkan lagi dengan sampling interval, begitu seterusnya untuk menentukan desa yang akan disurvei sampai diperoleh 30 desa.
g. Setelah diperoleh 30 desa yang akan disurvei, secara acak pilih rumah pertama yang akan disurvei di setiap desa kemudian dilanjutkan ke rumah disekitarnya yang berada paling dekat dari rumah yang pertama dipilih.
h. Survei dilaksanakan dengan menggunakan formulir kuesioner survei cakupan.
i. Setelah survei selesai dilaksanakan, didapatkan data cakupan pengobatan missal yang dihitung dengan menggunakan rumus:
Jumlah Individu yang minum obat * 100%
Jumlah Individu yang di survey

·      Penilaian Hasil Cakupan Pengobatan Massal & Survei Cakupan di Implementation Unit (IU)

Penemuan
Yang Harus Diperhatikan
Tindak Lanjut
Cakupan pengobatan missal dan cakupan survey keduanya rendah
· Cakupan geografis adalah desa yang tidak diobati.
· Cakupan pengobatan massal pada tiap kelompok umur (<2Th, 2-5Th, 6-14Th dan >14 Th) adakah kelompok umur yang tidak diobati.
· Alasan penduduk sasaran pengobatan yang tidak meminum obatnya.
· Survei Pengetahuan, sikap dan perilaku untuk menilai permasalahan yang ada.
·    Tergantung dari masalahnya, mungkin dibutuhkan pengobatan massal di wilayah yang belum diobati.
·   Memperbaharui penggerakan di masyarakat agar mau minum obat filariasis.
·   Memperbaharui motivasi dan kemampuan kader dalam memberikan obat filariasis melalui training dan supervisi.
Cakupan pengobatan massal
lebih tinggi dari cakupan
survei
·   Kader tidak betul melaporkan angka penduduk yang minum
obat.
·    Jumlah penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau telah berubah, atau penduduk dari luar IU juga meminum obat dan dicatat sebagai penduduk di IU.
·   Memperbaharui motivasi dan kemampuan kader dalam memberikan obat filariasis melalui training dan supervisi.
·   Tanyakan kepada kader apakah benar ada penduduk di luar IU yang tercatat sebagai sasaran pengobatan massal di IU yang dilaporkan kemudian keluarkan penduduk tersebut dari pencatatan.

Cakupan pengobatan massal
lebih rendah dari cakupan
survei


·  Jumlah penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau sudah
berubah.


·   Perbaiki data jumlah penduduk tersebut.
Cakupan pengobatan massal
dan cakupan survey keduanya tinggi
·    Sistem pencatatan sudah baik
·    Masyarakat dan kader telah termotivasi dengan baik.
·    Semua aparat yang terlibat dalam pengobatan missal berada di tempat dan bekerja dengan baik.
·  Pertahankan hasil pengobatan massal yang sudah baik tersebut sampai pengobatan tahun berikutnya.

·      Pendistribusian Obat Filariasis

Tomar & Kusnanto (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak pemukiman masyarakat dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya petugas menjangkau tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam minum obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat filariasis merupakan suatu upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai cakupan pengobatan massal filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang tinggi.
Untuk itu perlu dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis yang sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).

·      Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Minum Obat Filariasis

Perilaku minum obat merupakan salah satu bentuk nyata dari perilaku kesehatan. Merujuk pada uraian di atas, respon dari perilaku minum obat adalah tindakan seseorang yang bisa diamati (overt behavior) berupa tindakan minum obat atau tidak minum obat. Dikaitkan dengan penelitian ini maka yang dimaksud dengan perilaku minum obat filariasis adalah respon masyarakat sasaran pengobatan missal filariasis berupa tindakan minum obat atau tindakan tidak minum obat filariasis. Sedangkan stimulus dari perilaku minum obat filariasis adalah filariasis serta pemberian obat filariasis oleh petugas.
Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku minum obat filariasis. Faktor-faktor tersebut, yaitu:
1.   Keturunan
     Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organism dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan merupakan penentu perilaku manusia. Hereditas atau faktor keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku manusia selanjutnya (Notoatmodjo, 1993).
2.   Lingkungan
     Perilaku dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua, yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 1993).
3.   Pendidikan Kesehatan (Promosi Kesehatan)
Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut maka masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku sasaran (Notoatmodjo, 1993).
Promosi kesehatan dalam upaya eliminasi filariasis di Indonesia dilakukan untuk meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat, serta terciptanya lingkungan yang kondusif. Keberhasilan pengobatan massal filariasis tergantung dari kesadaran masyarakat untuk minum obat filariasis sekali setahun selama minimal 5 tahun. Oleh sebab itu kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari program pengobatan missal filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006f).
4.   Komunikasi Penyuluhan dan Sosialisasi Pengobatan Massal Filariasis
     Komunikasi di sini diperlukan untuk mengkondisikan faktor-faktor predisposisi. Kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit mengakibatkan mereka tidak berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu diperlukan komunikasi, pemberian informasi-informasi kesehatan. Untuk berkomunikasi yang efektif para petugas kesehatan perlu dibekali ilmu komunikasi, termasuk media komunikasinya (Notoatmodjo, 1993).
     Kampanye kesehatan merupakan inti dari kegiatan pengobatan missal filariasis agar orang mau minum obat filariasis. Pengobatan massal filariasis merupakan upaya untuk melindungi masyarakat dari transmisi penularan filariasis tidak terkecuali pada masyarakat yang sehat, maka perlu dijelaskan mengapa orang yang menjadi sasaran pengobatan massal filariasis harus minum obat filariasis. Perlu dijelaskan pula ada kemungkinan terjadinya efek samping obat filariasis setelah minum obat filariasis pada masyarakat. Masyarakat tanpa penjelasan informasi tentang pengobatan massal filariasis mungkin tidak mau minum obat filariasis, dan mereka menjadi berisiko dalam transmisi penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2007).
5.   Pemberdayaan dan Penggerakkan Masyarakat
     Pemberdayaan dan penggerakkan masyarakat merupakan suatu bentuk pendekatan atau alat yang memungkinkan masyarakat untuk terlibat bersama dalam kegiatan. Organisasi masyarakat, sektor pemerintah dan non pemerintah, serta individu tergabung dalam upaya untuk berkomunikasi, negosiasi dan bekerja sama memaksimalkan potensi-potensi yang ada untuk kegiatan bersama, perbaikan dan perubahan sosial. Dalam pengobatan massal filariasis, penggerakkan masyarakat sangat diperlukan demi keberhasilan program secara keseluruhan. Pengobatan missal filariasis memerlukan keterlibatan masyarakat untuk minum obat filariasis selama jangka waktu paling kurang 5 tahun, maka perlu adanya dukungan masyarakat luas dari semua sektor. Jika dukungan ini tidak ada ataupun kurang, maka keberhasilan program menghadapi bahaya serius (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
6.   Pelatihan
Untuk mencapai cakupan penerimaan obat filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang optimal, Tenaga Pelaksana Eliminasi filariasis perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan kemampuan dalam merancang Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang inovatif untuk menurunkan tingkat ketidakpatuhan minum obat filariasis pada masyarakat. Sebelum melakukan pengobatan masal filariasis, setiap putaran pengobatan massal filariasis dilakukan orientasi dan pelatihan Tenaga Pelaksana Eliminasi filariasis. Materi yang diberikan adalah pengetahuan tentang penyebab filariasis, transmisi filariasis, pencegahan filariasis, perlunya minum obat filariasis dan meningkatkan kemampuan TPE dalam menjelaskan efek samping obat filariasis yang mungkin terjadi. TPE akan melanjutkan informasi yang diperolehnya kepada masyarakat binaannya melalui komunikasi interpersonal (Nandha, dkk.,2007).

·      Pendistribusian Obat Filariasis

Tomar & Kusnanto (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak pemukiman masyarakat dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya petugas menjangkau tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam minum obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat filariasis merupakan suatu upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai cakupan pengobatan massal filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang tinggi. Untuk itu perlu dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis yang sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).

·      Faktor Penguat

1. Komitmen Pejabat Politik dan Pemerintah Daerah
     Adanya komitmen dari pejabat politik dan pemerintah daerah berhubungan dengan keberhasilan pengobatan massal filariasis dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku masyarakat untuk minum obat filariasis. Komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten dibutuhkan dalam membiayai pelaksanaan pengobatan massal filariasis selama jangka waktu 5 – 7 tahun (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002). Menurut Notoatmodjo (2003), undang-undang dan peraturan baik dari pusat maupun dari daerah yang terkait dengan kesehatan dapat memperkuat perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan.
2. Kontrol Petugas Pemberi Obat Filariasis
Petugas pemberi obat filariasis harus memastikan bahwa obat-obat yang diberikan dalam pengobatan massal filariasis ditelan penerima obat secara langsung di depan petugas tersebut (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002). Kebijakan yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kepulauan Mentawai yang mengijinkan obat diberikan kepada masyarakat untuk diminum di rumah sebelum tidur, justru semakin melonggarkan masyarakat dalam minum obat filariasis. Kebijakan tersebut merupakan upaya untuk meminimalkan efek samping yang biasanya terjadi kira-kira 4 jam setelah minum obat, diharapkan dengan
mengijinkan masyarakat untuk minum obat di rumah sebelum tidur dapat mengurangi efek samping yang diderita karena orang tersebut akan mengantuk dan tidur. Namun, kebijakan ini melemahkan kontrol petugas terhadap masyarakat untuk minum obat filariasis. Kontrol petugas yang lemah dapat mengakibatkan efektifitas.
Contoh program perngobatan missal Filariasis perkabutan :
PROGRAM MINUM OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS PUTARAN 4 TAHUN 2012 DI KABUPATEN BANDUNG FILARIASIS adalah penyakit infeksi yang bersipat menahun, disebabkan oleh CACING FILARIA ditularkan oleh NYAMUK. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat menetap berupa PEMBESARAN KAKI, LENGAN, KANTONG BUAH ZAKAR DAN PAYUDARA. Bisa menyerang SEMUA ORANG, BUKAN KUTUKAN, GUNA-GUNA ATAU KETURUNAN.
Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah endemis Filariasis, oleh sebab itu ada Program Minum Obat MassalPencegahan (POMP) Filariasis selama 5 tahun berturut-turut sejak tahun 2009 - tahun 2013, tahun 2012 ini merupakan putaran ke 4.
Pelaksanaan POMP Filariasis akan dilaksanakan serentak mulai tanggal 15 Oktober sd 15 November 2012 di seluruh wilayah kabupaten Bandung dengan jumlah sasaran sebanyak 2.525.000 orang  yang berusia 2 tahun sampai 65 tahun. Tenaga pelaksana melibatkan dokter 120 orang, tenaga paramedis 800 orang, kader terlatih 16.600 orang, yang tersebar pada 4.150 POS Minum Obat. Direncanakan Bapak Bupati akan melaksakan pencanangan POMP Filariasis hari senin tanggal 15 Oktober 2012, jam 13.00 di Aula Kecamatan Banjaran.
Obat yang diminum adalah Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol yang dikenal sebagai OBAT CACING, yang akan dibagikan secara cuma-cuma alias ....... GRATISSSS !!!!!!...... . Bagi anak usia <2 tahun, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Sakit Berat, Kasus Kronis Filariasis, Balita Marasmus, kwasiorkor, gizi buruk sebaiknya pengobatannya ditunda.
Aturan minum obat : harus dalam keadaan sehat, obat diminum harus sesudah makan, waktu minum obat sore hari/ malam.
Dengan mengikuti minum obat cacing Pencegahan Filariasis berarti kita akan mencegah terjadinya kecacatan menetap pada 32.000 orang masyarakat kabupaten bandung.

 

Kesimpulan

Limphatik filariasis (LF) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakitmenular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan kelamin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunyasempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasiskhas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelahitu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasistersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia.
Pengobatan massal filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan, setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005). Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk, sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).




 

 

DAFTAR PUSTAKA

·      Anonim, 2012.  Diposkan oleh : Administrator     . Diunduh dari : http:// kesehatan. bandungkab. go.id/
·      Faktor-faktor literature.pdf









Resume:
Filariasis ( penyakit kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki – laki.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya. Aktifitas mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan pada siang hari. Pada malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam sistem pembuluh darah tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler paru – paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.











     Soal:
(a)    Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Citrate (DC). 
(b)   Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan lain.
(c)    Penyakit filariasis tidak menyebabkan cacat tetap.
(d)   Penyakit filariasis ditularkan melalui udara.
1. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah

(a)    Penyakit filariasis disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori
(b)   Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan lain
(c)    Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3).
(d)   Kumpulan cacing filaria dewasa ini tidak menjadi penyebab penyumbatan pembuluh limfe
2. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah



(a)    Penyakit kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing ascaris lumbricoides yang menyumbat pembulurh darah sehingga mengakibatkan pembengkakan.
(b)   Filariasis mudah menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus elephantiasis.
(c)    Tiga spesies filaria yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan filariasis.
(d)   Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3).
3.      Pernyataan yang benar....
a.       (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah

(a)    Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena mikrofilaria aktif pada malam hari dan banyak beredar dalam sistem pembuluh darah
(b)   Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya
(c)    Mikrofilaria aktiv pada malam hari karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari
(d)     Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
4. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah



(a)    Hospes cacing filaria i

Pengobatan Masal Dengan Implementasi Unit Perkabupaten

(Filariasis)

A. Pendahulan

 Limphatik filariasis (LF) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakitmenular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan kelamin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelahitu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasistersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang.Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata.Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan program Indonesia Sehat berkeadilan Tahun 2015 dapat terwujud salah satunyaa dalah terbebas dari endemi filariasis.
Penyakit kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing filaria yang menyumbat pembulurh darah   sehingga mengakibatkan pembengkakan. Cacing  filaria  terdapat  didalam  tubuh  nyamuk  culex  yang  biasa berkembang biak di air kotor yang tergenang seperti got, comberan, dan rawa. Untuk mencegahnya yaitu mengalirkan air agar tidak ada nyamuk yang bertelur di tempat tersebut.
Alur  penularan  penyakit  kaki  gajah  dapat  dijelaskan  pada  diagram dibawah ini
Nyamuk bertelur dan menetas
 
Air Tergenang
 
Menghisap darah orang sehat
 
Orang sehat menjadi sakit “FIlaria”
 
 


 


Latar Belakang

Untuk memberantas filariasis sampai tuntas, WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by The Year 2020 ) yaitu program pengeliminasian filariasis secara masal. Program ini dilaksanakan melalui pengobatan masal dengan DEC  dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasikan yang endemis dan perawatan kasus klinis untuk mencegah kecacatan. WHO sendiri telah menyatakan filariasis sebagai urutan kedua penyebab cacat permanen di dunia. Di Indonesia sendiri, tela h melaksanakan eliminasi filariasis secara bertahap dimulai pada tahun 2002  di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahunnya.
Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini sebagai secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebarab filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya diharapkan program Indonesia Sehat dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari endemi filariasis.
Pengobatan massal filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan, setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005). Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk, sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).
Tujuan pengobatan massal adalah memutus rantai penularan filariasis dengan menurunkan mikrofilaria rate menjadi < 1 % dan menurunkan kepadatan rata-rata mikrofilaria dalam darah. Pengobatan massal filariasis untuk sementara ditunda bagi anak berusia kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, orang yang sedang sakit berat, penderita kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut, anak dengan marasmus atau kwashiorkor, lanjut usia. Dosis obat ditentukan berdasarkan kelompok umur sesuai tabel di bawah ini (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).


Pembahasan

·      Pengertian Filariasis

Filariasis ( penyakit kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki – laki.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Pada Wuchereria Bancrofti, mikrofilarianya berukuran ± 250µ, cacing betina dewasa berukuran panjang 65 – 100 mm dan cacing jantan dewasa berukuran panjang ± 40 mm ( Juni Prianto L. A . dkk., 1999 ). Diujung daerah kepala membesar, mulutnya berupa lubang sederhana tanpa bibir ( Oral stylet ), sedangkan pada Brugia Malayi dan Brugia Timori, mikrofilnya berukuran ± 280µ. Cacing dewasa jantan panjangnya 23 mm dan cacing betina dewasa panjangnya 39 mm ( Juni Prianto L. A . dkk., 1999 ). Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya. Aktifitas mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan pada siang hari. Pada malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam sistem pembuluh darah tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler paru – paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain. Pada umumnya laki – laki lebih  mudah terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan mendapat infeksi ( eksposure ). Hospes reservoar adalah hewan yang dapat menjadi hospes bagi cacing filaria, misalnya Brugia Malayi yang dapat hidup pada kucing, kera, kuda dan sapi.
Banyak spesies nyamuk yang ditemukan sebagai vektor filariasis, tergantung pada jenis cacing filarianya dan habitat nyamuk itu sendiri. Wuchereria Bancrofti yang terdapat di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus, menggunakan air kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya. Wuchereria Bancrofti yang ada di daerah pedesaan dapat ditularkan oleh berbagai macam spesies nyamuk. Di Irian Jaya,Wuchereria bancrofti terutama ditularkan oleh Anopheles farauti yang menggunakan bekas jejak kaki binatang untuk tempat perindukannya. Di daerah pantai di NTT, Wuchereria bancrofti ditularkan oleh Anopheles subpictus. Brugia malayi yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh berbagai spesies Mansoniaseperti Mansonia uniformis, Mansonia bonneae, dan Mansonia dives yang berkembang biak di daerah rawa di Sumatera, Kalimantan, dan Maluku. Di daerah Sulawesi, Brugia malayi ditularkan oleh Anopheles barbirostrisyang menggunakan sawah sebagai tempat perindukannya. Brugia timori ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang berkembang biak di daerah sawah, baik di dekat pantai maupun di daerah pedalaman. Brugia timori hanya ditemukan di daerah NTT dan Timor Timur.

·      Gejala klinis filariais antara lain adalah berupa :

1. Demam berulang-ulang selama 3 – 5 hari, demam dapat hilang bila beristirahat dan muncul kembali setelah bekerja berat.
2. Pembengkakan kelenjar limfe (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan. Diikuti dengan radang saluran kelenjar limfe yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah ujung (Retrograde lymphangitis) yang dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah.
3. Pembesaran tungkai, buah dada, dan buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (Early lymphodema). Gejala klinis yang kronis berupa pembesaran yang menetap pada tungkai, lengan, buah dada, dan buah zakar tersebut.

Seseorang yang menderita filariasis dapat didiagnosis secara klinis dengan cara sebagai berikut :
1)  Deteksi parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah pada pemeriksaan sediaan darah tebal. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena mikrofilaria aktif pada malam hari dan banyak beredar dalam sistem pembuluh darah. Setelah membuat sedian darah maka dilakukan pemeriksaan sedian tersebut. Jika pada sediaan ditemukan mikrofilaria, maka orang tersebut telah terinfeksi cacing filaria.
2) Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum.

·      KRITERIA FILARIASIS

Filariasis mudah menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus elephantiasis, atau adanya 2 atau lebih kasus elephantiasis di suatu wilayah pada jarak terbang nyamuk yang mempunyai riwayat menetap bersama/berdekatan pada suatu wilayah selama lebih dari satu tahun. Berdasarkan ketentuan WHO, jika ditemukan mikro filarial rate ≥ 1% pada satu wilayah maka daerah tersebut dinyatakan endemis dan harus segera diberikan pengeobatan secara masal selama 5 tahun berturut-turut.
Di indonesia filarialis telah tersebar luas hampir di semua propinsi, berdasarkan laporan dari daerah dan hasil survey pada tahun 2000 tercatat sebanyak 6500 kasus kronis di 1553 desa pada 231 kabupaten atau 26 propinsi. Pada tahun 2005 kasus kronis dilaporkan sebanyak 10.237 orang yang tersebar di 373 kabupaten/kota di 33 propinsi.  Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tanggal 8 April 2002 Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan dimulainya eliminasi penyakit Kaki Gajah di Indonesia dan telah menetapkan eliminasi Kaki Gajah sebagai salah satu program prioritas. Sebagai pedoman Pengendalian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomer : 1582/ MENKES/SK/XI/2005 Tanggal 18 Nopember 2005.

·      Mekanisme Terjadinya Filariasis

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk tersebut mendapatkan mikrofilaria sewaktu menghisap darah penderita atau binatang reservoar yang mengandung mikrofilaria. Siklus penularan filariasis ini melalui dua tahap , yaitu mosquito satges atau tahap perkembangan dalam tubuh nyamuk (vektor) danhuman stages atau tahap perkembangan dalam tubuh manusia (hospes) atau binatang (hospes reservoar).
Di dalam tubuh nyamuk, mikrofilaria berselubung (yang didapatkannya ketika menggigit penderita filariasis), akan melepaskan selubung tubuhnya yang kemudian bergerak menembus perut tengah lalu berpindah tempat menuju otot dada nyamuk. Larva ini disebut larva stadium I (L1). L1 kemudian berkembang hingga menjadi L3 yang membutuhkan waktu 12 – 14 hari. L3 kemudian bergerak menuju probisis nyamuk. Ketika nyamuk yang mengandung L3 tersebut menggigit manusia, maka terjadi infeksi mikrofilaria dalam tubuh orang tersebut. Setelah tertular L3, pada tahap selanjutnya di dalam tubuh manusia, L3 memasuki pembuluh limfe dimana L3 akan tumbuh menjadi cacing dewasa, dan berkembangbiak menghasilkan mikrofilaria baru sehingga bertambah banyak. Kumpulan cacing filaria dewasa ini menjadi penyebab penyumbatan pembuluh limfe. Aliran sekresi kelenjar limfe menjadi terhambat dan menumpuk di suatu lokasi. Akibatnya terjadi pembengkakan kelenjar limfe terutama pada daerah kaki, lengan maupun alat kelamin yang biasanya disertai infeksi sekunder dengan fungi dan bakteri karena kurang terawatnya bagian lipatan-lipatan kulit yang mengalami pembengkakan tersebut.

·      PENYEBAB FILARIASIS

Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia terutama dalam kelenjar getah bening dan darah. Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4 - 6 tahun dan dalam tubuh manusia cacing dewasa betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar dalam darah terutama malam hari.
     Penyebarannya diseluruh Indoensia baik di pedesaan maupun diperkotaan..Nyamuk merupakan vektor filariasis Di Indonesia ada 23 spesies nyamuk yang diketahui bertindak sebagai vektor dari genus: mansonia, culex, anopheles, aedes dan armigeres.
·      W. bancrofti perkotaan vektornya culex quinquefasciatus
·      W. bancrofti pedesaan: anopheles, aedes dan armigeres
·      B. malayi : mansonia spp, an.barbirostris.
·      B. timori : an. barbirostris.
Mikrofilaria mempunyai periodisitas tertentu tergantung dari spesies dan tipenya.Di Indonesia semuanya nokturna kecuali type non periodic Secara umum daur hidup ketiga spesies sama Tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan lingkungan habitatnya. ( Got, sawah, rawa, hutan ).


Cacing Dewasa Atau Makrofilaria
o  Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe
o  Ukuran 55 – 100 mm x 0,16 mm
o  Cacing jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm
o  Berkembang secara ovovivipar

Mikrofilaria
·         Merupakan larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu.
·         Mempunyai sarung. 200 – 600 X 8 um
Didalam tubuh nyamuk mikrofilaria yang diisap nyamuk akan berkembang dalam otot nyamuk.Setelah 3 hari menjadi larva L1, 6 hari menjadi larva L2, 8-10 hari untuk brugia atau 10 – 14 hari untuk wuchereria akan menjadi larva L3. Larva L3 sangat aktif dan merupakan larva infektif.ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk (tetapi tidak seperti malaria). Manusia merupakan hospes definitive Hampir semua dapat tertular terutama pendatang dari daerah non-endemik Beberapa hewan dapat bertindak sebagai hospes reservoir.

·      Faktor yang mempengaruhi :

·         Lingkungan fisik :Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,
·         Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang mempengaruhi penularan; hutan, reservoir, vector.
·         lingkungan social – ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat Istiadat, Kebiasaan dsb,
·         Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Getah Dsb.
Penularan dapat terjadi apabila ada 5 unsur yaitu sumber penular (manusia dan hewan), Parasit, Vektor, Manusia yang rentan, Lingkungan (fisik, biologik dan sosial-ekonomibudaya).

·      Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis

1. Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.
2. Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obatDiethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibat Brugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian DEC dan antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.
3. Upaya Rehabilitasi Filariasis
Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.



·      Cakupan Pengobatan Massal Filariasis

Cakupan pengobatan massal filariasis dilaporkan oleh TPE filariasis, puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menilai keberhasilan cakupan ini, yaitu:
A. Berdasarkan Total Penduduk di Kabupaten. Cakupan ini dapat menjelaskan jumlah penduduk yang beresiko untuk diobati dan aspek epidemiologinya.
Cakupan ini dibuat setiap tahun, dengan perhitungan sebagai berikut :
Jumlah penduduk minum obat di Kabupaten*100%
Jumlah seluruh penduduk di Kabupaten
B. Berdasarkan Jumlah Penduduk Sasaran Pengobatan di Kabupaten. Cakupan ini dapat menjelaskan efektivitas pengobatan massal.
Jumlah muinum obat di Kabupaten*100%
Jumlah penduduk sasaran pengobatan missal

·      Survei Cakupan Pengobatan Massal Filariasis

Tujuan dari survei cakupan adalah untuk menilai besarnya cakupan pengobatan massal yang dilaporkan TPE filariasis, puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksana survei cakupan yaitu Dinas Kesehatan Provinsi atau badan independen lainnya yang dilakukan satu bulan setelah pengobatan missal selesai. Survei ini dilaksanakan minimal satu kali selama putaran pengobatan massal.
Metoda yang digunakan adalah Cluster Survey (30 cluster) yang diadaptasi dari Expanded Programme on Immunization (EPI) WHO dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Hitung jumlah desa dan buat daftar nama-nama desa di Kabupaten/Kota yang akan disurvei.
b. Catat jumlah penduduk di setiap desa.
c. Hitung jumlah penduduk kumulatif setiap desa di Kabupaten/Kota.
d. Tentukan sampling interval dengan membagi jumlah penduduk total Kabupaten/Kota dengan 30.
e. Pilih angka pertama sebagai starting point dengan cara memilih secara acak angka dari 1 sampai dengan angka sampling interval. Di kolom desa yang mana letak angka yang terpilih tersebut, itulah desa pertama yang akan disurvei.
f. Tentukan desa selanjutnya yang akan disurvei dengan menambah starting point dengan sampling interval. Angka yang didapat kemudian ditambahkan lagi dengan sampling interval, begitu seterusnya untuk menentukan desa yang akan disurvei sampai diperoleh 30 desa.
g. Setelah diperoleh 30 desa yang akan disurvei, secara acak pilih rumah pertama yang akan disurvei di setiap desa kemudian dilanjutkan ke rumah disekitarnya yang berada paling dekat dari rumah yang pertama dipilih.
h. Survei dilaksanakan dengan menggunakan formulir kuesioner survei cakupan.
i. Setelah survei selesai dilaksanakan, didapatkan data cakupan pengobatan missal yang dihitung dengan menggunakan rumus:
Jumlah Individu yang minum obat * 100%
Jumlah Individu yang di survey

·      Penilaian Hasil Cakupan Pengobatan Massal & Survei Cakupan di Implementation Unit (IU)

Penemuan
Yang Harus Diperhatikan
Tindak Lanjut
Cakupan pengobatan missal dan cakupan survey keduanya rendah
· Cakupan geografis adalah desa yang tidak diobati.
· Cakupan pengobatan massal pada tiap kelompok umur (<2Th, 2-5Th, 6-14Th dan >14 Th) adakah kelompok umur yang tidak diobati.
· Alasan penduduk sasaran pengobatan yang tidak meminum obatnya.
· Survei Pengetahuan, sikap dan perilaku untuk menilai permasalahan yang ada.
·    Tergantung dari masalahnya, mungkin dibutuhkan pengobatan massal di wilayah yang belum diobati.
·   Memperbaharui penggerakan di masyarakat agar mau minum obat filariasis.
·   Memperbaharui motivasi dan kemampuan kader dalam memberikan obat filariasis melalui training dan supervisi.
Cakupan pengobatan massal
lebih tinggi dari cakupan
survei
·   Kader tidak betul melaporkan angka penduduk yang minum
obat.
·    Jumlah penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau telah berubah, atau penduduk dari luar IU juga meminum obat dan dicatat sebagai penduduk di IU.
·   Memperbaharui motivasi dan kemampuan kader dalam memberikan obat filariasis melalui training dan supervisi.
·   Tanyakan kepada kader apakah benar ada penduduk di luar IU yang tercatat sebagai sasaran pengobatan massal di IU yang dilaporkan kemudian keluarkan penduduk tersebut dari pencatatan.

Cakupan pengobatan massal
lebih rendah dari cakupan
survei


·  Jumlah penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau sudah
berubah.


·   Perbaiki data jumlah penduduk tersebut.
Cakupan pengobatan massal
dan cakupan survey keduanya tinggi
·    Sistem pencatatan sudah baik
·    Masyarakat dan kader telah termotivasi dengan baik.
·    Semua aparat yang terlibat dalam pengobatan missal berada di tempat dan bekerja dengan baik.
·  Pertahankan hasil pengobatan massal yang sudah baik tersebut sampai pengobatan tahun berikutnya.

·      Pendistribusian Obat Filariasis

Tomar & Kusnanto (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak pemukiman masyarakat dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya petugas menjangkau tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam minum obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat filariasis merupakan suatu upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai cakupan pengobatan massal filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang tinggi.
Untuk itu perlu dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis yang sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).

·      Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Minum Obat Filariasis

Perilaku minum obat merupakan salah satu bentuk nyata dari perilaku kesehatan. Merujuk pada uraian di atas, respon dari perilaku minum obat adalah tindakan seseorang yang bisa diamati (overt behavior) berupa tindakan minum obat atau tidak minum obat. Dikaitkan dengan penelitian ini maka yang dimaksud dengan perilaku minum obat filariasis adalah respon masyarakat sasaran pengobatan missal filariasis berupa tindakan minum obat atau tindakan tidak minum obat filariasis. Sedangkan stimulus dari perilaku minum obat filariasis adalah filariasis serta pemberian obat filariasis oleh petugas.
Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku minum obat filariasis. Faktor-faktor tersebut, yaitu:
1.   Keturunan
     Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organism dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan merupakan penentu perilaku manusia. Hereditas atau faktor keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku manusia selanjutnya (Notoatmodjo, 1993).
2.   Lingkungan
     Perilaku dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua, yakni faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 1993).
3.   Pendidikan Kesehatan (Promosi Kesehatan)
Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut maka masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku sasaran (Notoatmodjo, 1993).
Promosi kesehatan dalam upaya eliminasi filariasis di Indonesia dilakukan untuk meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat, serta terciptanya lingkungan yang kondusif. Keberhasilan pengobatan massal filariasis tergantung dari kesadaran masyarakat untuk minum obat filariasis sekali setahun selama minimal 5 tahun. Oleh sebab itu kegiatan promosi kesehatan merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari program pengobatan missal filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006f).
4.   Komunikasi Penyuluhan dan Sosialisasi Pengobatan Massal Filariasis
     Komunikasi di sini diperlukan untuk mengkondisikan faktor-faktor predisposisi. Kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit mengakibatkan mereka tidak berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu diperlukan komunikasi, pemberian informasi-informasi kesehatan. Untuk berkomunikasi yang efektif para petugas kesehatan perlu dibekali ilmu komunikasi, termasuk media komunikasinya (Notoatmodjo, 1993).
     Kampanye kesehatan merupakan inti dari kegiatan pengobatan missal filariasis agar orang mau minum obat filariasis. Pengobatan massal filariasis merupakan upaya untuk melindungi masyarakat dari transmisi penularan filariasis tidak terkecuali pada masyarakat yang sehat, maka perlu dijelaskan mengapa orang yang menjadi sasaran pengobatan massal filariasis harus minum obat filariasis. Perlu dijelaskan pula ada kemungkinan terjadinya efek samping obat filariasis setelah minum obat filariasis pada masyarakat. Masyarakat tanpa penjelasan informasi tentang pengobatan massal filariasis mungkin tidak mau minum obat filariasis, dan mereka menjadi berisiko dalam transmisi penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2007).
5.   Pemberdayaan dan Penggerakkan Masyarakat
     Pemberdayaan dan penggerakkan masyarakat merupakan suatu bentuk pendekatan atau alat yang memungkinkan masyarakat untuk terlibat bersama dalam kegiatan. Organisasi masyarakat, sektor pemerintah dan non pemerintah, serta individu tergabung dalam upaya untuk berkomunikasi, negosiasi dan bekerja sama memaksimalkan potensi-potensi yang ada untuk kegiatan bersama, perbaikan dan perubahan sosial. Dalam pengobatan massal filariasis, penggerakkan masyarakat sangat diperlukan demi keberhasilan program secara keseluruhan. Pengobatan missal filariasis memerlukan keterlibatan masyarakat untuk minum obat filariasis selama jangka waktu paling kurang 5 tahun, maka perlu adanya dukungan masyarakat luas dari semua sektor. Jika dukungan ini tidak ada ataupun kurang, maka keberhasilan program menghadapi bahaya serius (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
6.   Pelatihan
Untuk mencapai cakupan penerimaan obat filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang optimal, Tenaga Pelaksana Eliminasi filariasis perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan kemampuan dalam merancang Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang inovatif untuk menurunkan tingkat ketidakpatuhan minum obat filariasis pada masyarakat. Sebelum melakukan pengobatan masal filariasis, setiap putaran pengobatan massal filariasis dilakukan orientasi dan pelatihan Tenaga Pelaksana Eliminasi filariasis. Materi yang diberikan adalah pengetahuan tentang penyebab filariasis, transmisi filariasis, pencegahan filariasis, perlunya minum obat filariasis dan meningkatkan kemampuan TPE dalam menjelaskan efek samping obat filariasis yang mungkin terjadi. TPE akan melanjutkan informasi yang diperolehnya kepada masyarakat binaannya melalui komunikasi interpersonal (Nandha, dkk.,2007).

·      Pendistribusian Obat Filariasis

Tomar & Kusnanto (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak pemukiman masyarakat dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya petugas menjangkau tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam minum obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat filariasis merupakan suatu upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai cakupan pengobatan massal filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang tinggi. Untuk itu perlu dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis yang sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).

·      Faktor Penguat

1. Komitmen Pejabat Politik dan Pemerintah Daerah
     Adanya komitmen dari pejabat politik dan pemerintah daerah berhubungan dengan keberhasilan pengobatan massal filariasis dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku masyarakat untuk minum obat filariasis. Komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten dibutuhkan dalam membiayai pelaksanaan pengobatan massal filariasis selama jangka waktu 5 – 7 tahun (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002). Menurut Notoatmodjo (2003), undang-undang dan peraturan baik dari pusat maupun dari daerah yang terkait dengan kesehatan dapat memperkuat perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan.
2. Kontrol Petugas Pemberi Obat Filariasis
Petugas pemberi obat filariasis harus memastikan bahwa obat-obat yang diberikan dalam pengobatan massal filariasis ditelan penerima obat secara langsung di depan petugas tersebut (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002). Kebijakan yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kepulauan Mentawai yang mengijinkan obat diberikan kepada masyarakat untuk diminum di rumah sebelum tidur, justru semakin melonggarkan masyarakat dalam minum obat filariasis. Kebijakan tersebut merupakan upaya untuk meminimalkan efek samping yang biasanya terjadi kira-kira 4 jam setelah minum obat, diharapkan dengan
mengijinkan masyarakat untuk minum obat di rumah sebelum tidur dapat mengurangi efek samping yang diderita karena orang tersebut akan mengantuk dan tidur. Namun, kebijakan ini melemahkan kontrol petugas terhadap masyarakat untuk minum obat filariasis. Kontrol petugas yang lemah dapat mengakibatkan efektifitas.
Contoh program perngobatan missal Filariasis perkabutan :
PROGRAM MINUM OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS PUTARAN 4 TAHUN 2012 DI KABUPATEN BANDUNG FILARIASIS adalah penyakit infeksi yang bersipat menahun, disebabkan oleh CACING FILARIA ditularkan oleh NYAMUK. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat menetap berupa PEMBESARAN KAKI, LENGAN, KANTONG BUAH ZAKAR DAN PAYUDARA. Bisa menyerang SEMUA ORANG, BUKAN KUTUKAN, GUNA-GUNA ATAU KETURUNAN.
Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah endemis Filariasis, oleh sebab itu ada Program Minum Obat MassalPencegahan (POMP) Filariasis selama 5 tahun berturut-turut sejak tahun 2009 - tahun 2013, tahun 2012 ini merupakan putaran ke 4.
Pelaksanaan POMP Filariasis akan dilaksanakan serentak mulai tanggal 15 Oktober sd 15 November 2012 di seluruh wilayah kabupaten Bandung dengan jumlah sasaran sebanyak 2.525.000 orang  yang berusia 2 tahun sampai 65 tahun. Tenaga pelaksana melibatkan dokter 120 orang, tenaga paramedis 800 orang, kader terlatih 16.600 orang, yang tersebar pada 4.150 POS Minum Obat. Direncanakan Bapak Bupati akan melaksakan pencanangan POMP Filariasis hari senin tanggal 15 Oktober 2012, jam 13.00 di Aula Kecamatan Banjaran.
Obat yang diminum adalah Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol yang dikenal sebagai OBAT CACING, yang akan dibagikan secara cuma-cuma alias ....... GRATISSSS !!!!!!...... . Bagi anak usia <2 tahun, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Sakit Berat, Kasus Kronis Filariasis, Balita Marasmus, kwasiorkor, gizi buruk sebaiknya pengobatannya ditunda.
Aturan minum obat : harus dalam keadaan sehat, obat diminum harus sesudah makan, waktu minum obat sore hari/ malam.
Dengan mengikuti minum obat cacing Pencegahan Filariasis berarti kita akan mencegah terjadinya kecacatan menetap pada 32.000 orang masyarakat kabupaten bandung.

 

Kesimpulan

Limphatik filariasis (LF) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakitmenular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan kelamin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunyasempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasiskhas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelahitu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasistersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia.
Pengobatan massal filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan, setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005). Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk, sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).




 

 

DAFTAR PUSTAKA

·      Anonim, 2012.  Diposkan oleh : Administrator     . Diunduh dari : http:// kesehatan. bandungkab. go.id/
·      Faktor-faktor literature.pdf









Resume:
Filariasis ( penyakit kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki – laki.
Cacing filaria berasal dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya. Aktifitas mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan pada siang hari. Pada malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam sistem pembuluh darah tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler paru – paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.











     Soal:
(a)    Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Citrate (DC). 
(b)   Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan lain.
(c)    Penyakit filariasis tidak menyebabkan cacat tetap.
(d)   Penyakit filariasis ditularkan melalui udara.
1. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah

(a)    Penyakit filariasis disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori
(b)   Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan lain
(c)    Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3).
(d)   Kumpulan cacing filaria dewasa ini tidak menjadi penyebab penyumbatan pembuluh limfe
2. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah



(a)    Penyakit kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing ascaris lumbricoides yang menyumbat pembulurh darah sehingga mengakibatkan pembengkakan.
(b)   Filariasis mudah menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus elephantiasis.
(c)    Tiga spesies filaria yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan filariasis.
(d)   Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3).
3.      Pernyataan yang benar....
a.       (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah

(a)    Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena mikrofilaria aktif pada malam hari dan banyak beredar dalam sistem pembuluh darah
(b)   Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya
(c)    Mikrofilaria aktiv pada malam hari karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari
(d)     Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
4. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah



(a)    Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain
(b)   . Pada umumnya laki – laki lebih  mudah terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan mendapat infeksi ( eksposure )
(c)    Wuchereria Bancrofti yang terdapat di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus, menggunakan air kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya
(d)   Parasit filaria ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks
5. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah
 ni dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain
(b)   . Pada umumnya laki – laki lebih  mudah terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan mendapat infeksi ( eksposure )
(c)    Wuchereria Bancrofti yang terdapat di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus, menggunakan air kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya
(d)   Parasit filaria ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang kompleks
5. Pertanyaan yang benar....
    a.    (a), (b) dan (c) benar
b.      (a) dan (c) benar
c.       (b) dan (d) benar
d.      Semua opsi benar
e.       Semua opsi salah