Pengobatan Masal
Dengan Implementasi Unit Perkabupaten
(Filariasis)
A. Pendahulan
Limphatik filariasis (LF) merupakan salah satu penyakit endemik di
Indonesia. Filariasis
(penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah
penyakitmenular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang
ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor
penular filariasis hingga saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari
genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat
menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan
kelamin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang
dulunya sempat ada, kemudian
tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan di
wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di
Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877,
setelahitu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya.
Filariasistersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei survei pada
tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di
231Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus
kronis 6233 orang.Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh
pemerintah semata.Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara
aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan,
pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan program Indonesia Sehat
berkeadilan Tahun 2015 dapat terwujud salah satunyaa dalah terbebas dari endemi
filariasis.
Penyakit
kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing filaria yang menyumbat
pembulurh darah sehingga mengakibatkan
pembengkakan. Cacing filaria terdapat
didalam tubuh nyamuk
culex yang biasa berkembang biak di air kotor yang
tergenang seperti got, comberan, dan rawa. Untuk mencegahnya yaitu mengalirkan
air agar tidak ada nyamuk yang bertelur di tempat tersebut.
Alur penularan
penyakit kaki gajah
dapat dijelaskan pada
diagram dibawah ini
|
![]() |
||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
Latar Belakang
Untuk memberantas
filariasis sampai tuntas, WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global
Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by The
Year 2020 ) yaitu program pengeliminasian filariasis secara masal. Program ini
dilaksanakan melalui pengobatan masal dengan DEC dan Albendazol setahun
sekali selama 5 tahun dilokasikan yang endemis dan perawatan kasus klinis untuk
mencegah kecacatan. WHO sendiri telah menyatakan filariasis sebagai urutan
kedua penyebab cacat permanen di dunia. Di Indonesia sendiri, tela h
melaksanakan eliminasi filariasis secara bertahap dimulai pada tahun 2002
di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap
tahunnya.
Upaya pemberantasan filariasis
tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, masyarakat juga harus ikut
memberantas penyakit ini sebagai secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme
penyebarab filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya diharapkan
program Indonesia Sehat dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari
endemi filariasis.
Pengobatan massal
filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan
pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis
filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan,
setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005).
Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan
microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan
massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk,
sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis &
Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).
Tujuan pengobatan massal
adalah memutus rantai penularan filariasis dengan menurunkan mikrofilaria rate
menjadi < 1 % dan menurunkan kepadatan rata-rata mikrofilaria dalam darah.
Pengobatan massal filariasis untuk sementara ditunda bagi anak berusia kurang
dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, orang yang sedang sakit berat, penderita
kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut, anak dengan marasmus atau
kwashiorkor, lanjut usia. Dosis obat ditentukan berdasarkan kelompok umur
sesuai tabel di bawah ini (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen
Kesehatan RI, 2006d).
Pembahasan
· Pengertian
Filariasis
Filariasis ( penyakit
kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi
sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan
kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat
menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat
menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki – laki.
Cacing filaria berasal
dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan
infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia
Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan
berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang
kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Pada Wuchereria
Bancrofti, mikrofilarianya berukuran ± 250µ, cacing betina dewasa berukuran
panjang 65 – 100 mm dan cacing jantan dewasa berukuran panjang ± 40 mm ( Juni
Prianto L. A . dkk., 1999 ). Diujung daerah kepala membesar, mulutnya berupa
lubang sederhana tanpa bibir ( Oral stylet ), sedangkan pada Brugia Malayi dan
Brugia Timori, mikrofilnya berukuran ± 280µ. Cacing dewasa jantan panjangnya 23
mm dan cacing betina dewasa panjangnya 39 mm ( Juni Prianto L. A . dkk., 1999
). Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi
tubuhnya. Aktifitas mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan
pada siang hari. Pada malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam
sistem pembuluh darah tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki
granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat
sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler
paru – paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke
dalam sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran
darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat
bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
Hospes cacing filaria
ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi
sumber infeksi bagi orang lain. Pada umumnya laki – laki lebih mudah
terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan mendapat infeksi (
eksposure ). Hospes reservoar adalah hewan yang dapat menjadi hospes bagi
cacing filaria, misalnya Brugia Malayi yang dapat hidup pada kucing, kera, kuda
dan sapi.
Banyak spesies nyamuk
yang ditemukan sebagai vektor filariasis, tergantung pada jenis cacing
filarianya dan habitat nyamuk itu sendiri. Wuchereria Bancrofti yang terdapat
di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus, menggunakan air
kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya. Wuchereria Bancrofti yang ada
di daerah pedesaan dapat ditularkan oleh berbagai macam spesies nyamuk. Di
Irian Jaya,Wuchereria bancrofti terutama
ditularkan oleh Anopheles farauti yang menggunakan bekas jejak
kaki binatang untuk tempat perindukannya. Di daerah pantai di NTT, Wuchereria bancrofti ditularkan
oleh Anopheles subpictus. Brugia malayi yang hidup pada manusia
dan hewan ditularkan oleh berbagai spesies Mansoniaseperti Mansonia
uniformis, Mansonia bonneae, dan Mansonia dives yang
berkembang biak di daerah rawa di Sumatera, Kalimantan, dan Maluku. Di daerah
Sulawesi, Brugia malayi ditularkan oleh Anopheles
barbirostrisyang menggunakan sawah sebagai tempat perindukannya. Brugia
timori ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang
berkembang biak di daerah sawah, baik di dekat pantai maupun di daerah
pedalaman. Brugia timori hanya ditemukan di daerah NTT dan
Timor Timur.
· Gejala klinis
filariais antara lain adalah berupa :
1.
Demam berulang-ulang selama 3 – 5 hari, demam dapat hilang bila beristirahat
dan muncul kembali setelah bekerja berat.
2.
Pembengkakan kelenjar limfe (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis)
yang tampak kemerahan. Diikuti dengan radang saluran kelenjar limfe yang terasa
panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah
ujung (Retrograde lymphangitis) yang dapat pecah dan mengeluarkan nanah
serta darah.
3.
Pembesaran tungkai, buah dada, dan buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan
terasa panas (Early lymphodema). Gejala klinis yang kronis berupa
pembesaran yang menetap pada tungkai, lengan, buah dada, dan buah zakar
tersebut.
Seseorang yang menderita
filariasis dapat didiagnosis secara klinis dengan cara sebagai berikut :
1) Deteksi
parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah pada pemeriksaan sediaan
darah tebal. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena mikrofilaria
aktif pada malam hari dan banyak beredar dalam sistem pembuluh darah. Setelah
membuat sedian darah maka dilakukan pemeriksaan sedian tersebut. Jika pada
sediaan ditemukan mikrofilaria, maka orang tersebut telah terinfeksi cacing filaria.
2) Pemeriksaan dengan
ultrasonografi (USG) pada skrotum.
· KRITERIA FILARIASIS
Filariasis mudah
menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial
rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus elephantiasis, atau adanya
2 atau lebih kasus elephantiasis di suatu wilayah pada jarak terbang nyamuk
yang mempunyai riwayat menetap bersama/berdekatan pada suatu wilayah selama
lebih dari satu tahun. Berdasarkan ketentuan WHO, jika ditemukan mikro filarial
rate ≥ 1% pada
satu wilayah maka daerah
tersebut dinyatakan endemis dan harus segera diberikan pengeobatan secara masal
selama 5 tahun berturut-turut.
Di indonesia filarialis
telah tersebar luas hampir di semua propinsi, berdasarkan laporan dari daerah
dan hasil survey pada tahun 2000 tercatat sebanyak 6500 kasus kronis di 1553
desa pada 231 kabupaten atau 26 propinsi. Pada tahun 2005 kasus kronis dilaporkan
sebanyak 10.237 orang yang tersebar di 373 kabupaten/kota di 33 propinsi.
Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tanggal
8 April 2002 Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan dimulainya
eliminasi penyakit Kaki Gajah di Indonesia dan telah menetapkan eliminasi Kaki
Gajah sebagai salah satu program prioritas. Sebagai pedoman Pengendalian
Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomer : 1582/ MENKES/SK/XI/2005 Tanggal 18 Nopember 2005.
· Mekanisme
Terjadinya Filariasis
Seseorang dapat tertular
atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif
yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk tersebut
mendapatkan mikrofilaria sewaktu menghisap darah penderita atau binatang
reservoar yang mengandung mikrofilaria. Siklus penularan filariasis ini melalui
dua tahap , yaitu mosquito satges atau tahap perkembangan
dalam tubuh nyamuk (vektor) danhuman stages atau tahap perkembangan
dalam tubuh manusia (hospes) atau binatang (hospes reservoar).
Di dalam tubuh nyamuk,
mikrofilaria berselubung (yang didapatkannya ketika menggigit penderita
filariasis), akan melepaskan selubung tubuhnya yang kemudian bergerak menembus
perut tengah lalu berpindah tempat menuju otot dada nyamuk. Larva ini disebut
larva stadium I (L1). L1 kemudian berkembang hingga menjadi L3 yang membutuhkan
waktu 12 – 14 hari. L3 kemudian bergerak menuju probisis nyamuk. Ketika nyamuk
yang mengandung L3 tersebut menggigit manusia, maka terjadi infeksi
mikrofilaria dalam tubuh orang tersebut. Setelah tertular L3, pada tahap
selanjutnya di dalam tubuh manusia, L3 memasuki pembuluh limfe dimana L3 akan
tumbuh menjadi cacing dewasa, dan berkembangbiak menghasilkan mikrofilaria baru
sehingga bertambah banyak. Kumpulan cacing filaria dewasa ini menjadi penyebab
penyumbatan pembuluh limfe. Aliran sekresi kelenjar limfe menjadi terhambat dan
menumpuk di suatu lokasi. Akibatnya terjadi pembengkakan kelenjar limfe terutama
pada daerah kaki, lengan maupun alat kelamin yang biasanya disertai infeksi
sekunder dengan fungi dan bakteri karena kurang terawatnya bagian
lipatan-lipatan kulit yang mengalami pembengkakan tersebut.
· PENYEBAB FILARIASIS
Penyakit ini disebabkan
oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia
Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia terutama
dalam kelenjar getah bening dan darah. Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar
getah bening manusia selama 4 - 6 tahun dan dalam tubuh manusia cacing dewasa
betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar dalam darah
terutama malam hari.
Penyebarannya diseluruh Indoensia baik di pedesaan maupun
diperkotaan..Nyamuk merupakan vektor filariasis Di Indonesia ada 23 spesies
nyamuk yang diketahui bertindak sebagai vektor dari genus: mansonia,
culex, anopheles, aedes dan armigeres.
· W. bancrofti perkotaan
vektornya culex quinquefasciatus
· W. bancrofti pedesaan: anopheles,
aedes dan armigeres
· B. malayi : mansonia
spp, an.barbirostris.
· B. timori : an.
barbirostris.
Mikrofilaria mempunyai
periodisitas tertentu tergantung dari spesies dan tipenya.Di Indonesia semuanya
nokturna kecuali type non periodic Secara umum daur hidup ketiga spesies sama
Tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan lingkungan habitatnya.
( Got, sawah, rawa, hutan ).
Cacing
Dewasa Atau Makrofilaria
o Berbentuk
silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe
o Ukuran
55 – 100 mm x 0,16 mm
o Cacing
jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm
o Berkembang
secara ovovivipar
Mikrofilaria
· Merupakan
larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu.
· Mempunyai
sarung. 200 – 600 X 8 um
Didalam tubuh nyamuk mikrofilaria
yang diisap nyamuk akan berkembang dalam otot nyamuk.Setelah 3 hari menjadi
larva L1, 6 hari menjadi larva L2, 8-10 hari untuk brugia atau
10 – 14 hari untuk wuchereria akan menjadi larva L3. Larva L3
sangat aktif dan merupakan larva infektif.ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk (tetapi tidak seperti malaria). Manusia merupakan hospes
definitive Hampir semua dapat tertular terutama pendatang dari daerah
non-endemik Beberapa hewan dapat bertindak sebagai hospes reservoir.
·
Faktor yang mempengaruhi :
· Lingkungan fisik :Iklim, Geografis, Air
dan lainnnya,
· Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang
mempengaruhi penularan; hutan, reservoir, vector.
· lingkungan social –
ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat Istiadat, Kebiasaan dsb,
· Ekonomi: Cara Bertani, Mencari
Rotan, Getah Dsb.
Penularan
dapat terjadi apabila ada 5 unsur yaitu sumber penular (manusia dan hewan), Parasit,
Vektor, Manusia yang rentan, Lingkungan (fisik, biologik dan sosial-ekonomibudaya).
· Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis
1.
Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari
gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu
sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk,
mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang
menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik
nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala
pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara
diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu
sendiri dengan cara 3M.
2.
Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus
dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obatDiethyl
Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan
cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah
satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis
akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat
badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibat Brugia
malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg
berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam,
menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang
disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia
timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk
pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam
waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis
tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun.
Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah
ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid
yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya
membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding
DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian
DEC dan antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus
tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.
3. Upaya Rehabilitasi Filariasis
Penderita filariasis
yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak
bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar
tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar
tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.
· Cakupan Pengobatan
Massal Filariasis
Cakupan
pengobatan massal filariasis dilaporkan oleh TPE filariasis, puskesmas dan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam
menilai keberhasilan cakupan ini, yaitu:
A.
Berdasarkan Total Penduduk di Kabupaten. Cakupan ini dapat menjelaskan jumlah
penduduk yang beresiko untuk diobati dan aspek epidemiologinya.
Cakupan ini dibuat
setiap tahun, dengan perhitungan sebagai berikut :
Jumlah penduduk minum
obat di Kabupaten*100%
Jumlah seluruh penduduk
di Kabupaten
B.
Berdasarkan Jumlah Penduduk Sasaran Pengobatan di Kabupaten. Cakupan ini dapat
menjelaskan efektivitas pengobatan massal.
Jumlah
muinum obat di Kabupaten*100%
Jumlah
penduduk sasaran pengobatan missal
· Survei Cakupan Pengobatan Massal Filariasis
Tujuan dari survei
cakupan adalah untuk menilai besarnya cakupan pengobatan massal yang dilaporkan
TPE filariasis, puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksana survei
cakupan yaitu Dinas Kesehatan Provinsi atau badan independen lainnya yang
dilakukan satu bulan setelah pengobatan missal selesai. Survei ini dilaksanakan
minimal satu kali selama putaran pengobatan massal.
Metoda yang digunakan
adalah Cluster Survey (30 cluster) yang diadaptasi dari Expanded
Programme on Immunization (EPI) WHO dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Hitung jumlah desa dan buat daftar nama-nama desa
di Kabupaten/Kota yang akan disurvei.
b. Catat jumlah penduduk di setiap desa.
c. Hitung jumlah penduduk kumulatif setiap desa di
Kabupaten/Kota.
d. Tentukan sampling interval dengan membagi jumlah
penduduk total Kabupaten/Kota dengan 30.
e. Pilih angka pertama sebagai starting point dengan
cara memilih secara acak angka dari 1 sampai dengan angka sampling interval. Di
kolom desa yang mana letak angka yang terpilih tersebut, itulah desa pertama
yang akan disurvei.
f.
Tentukan desa selanjutnya yang akan disurvei dengan menambah starting point
dengan sampling interval. Angka yang didapat kemudian ditambahkan lagi dengan
sampling interval, begitu seterusnya untuk menentukan desa yang akan disurvei
sampai diperoleh 30 desa.
g.
Setelah diperoleh 30 desa yang akan disurvei, secara acak pilih rumah pertama
yang akan disurvei di setiap desa kemudian dilanjutkan ke rumah disekitarnya
yang berada paling dekat dari rumah yang pertama dipilih.
h.
Survei dilaksanakan dengan menggunakan formulir kuesioner survei cakupan.
i.
Setelah survei selesai dilaksanakan, didapatkan data cakupan pengobatan missal
yang dihitung dengan menggunakan rumus:
Jumlah
Individu yang minum obat * 100%
Jumlah
Individu yang di survey
· Penilaian Hasil Cakupan Pengobatan Massal & Survei
Cakupan di Implementation Unit (IU)
|
Penemuan
|
Yang Harus Diperhatikan
|
Tindak Lanjut
|
|
Cakupan pengobatan missal dan cakupan
survey keduanya rendah
|
· Cakupan
geografis adalah desa yang tidak diobati.
· Cakupan
pengobatan massal pada tiap kelompok umur (<2Th, 2-5Th, 6-14Th dan >14
Th) adakah kelompok umur yang tidak diobati.
· Alasan
penduduk sasaran pengobatan yang tidak meminum obatnya.
· Survei
Pengetahuan, sikap dan perilaku untuk menilai permasalahan yang ada.
|
·
Tergantung dari masalahnya, mungkin dibutuhkan
pengobatan massal di wilayah yang belum diobati.
·
Memperbaharui penggerakan di masyarakat agar mau
minum obat filariasis.
·
Memperbaharui motivasi dan kemampuan kader dalam
memberikan obat filariasis melalui training dan supervisi.
|
|
Cakupan
pengobatan massal
lebih
tinggi dari cakupan
survei
|
·
Kader tidak betul melaporkan angka penduduk yang
minum
obat.
· Jumlah
penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau telah
berubah, atau penduduk dari luar IU juga meminum obat dan dicatat sebagai
penduduk di IU.
|
· Memperbaharui
motivasi dan kemampuan kader dalam memberikan obat filariasis melalui
training dan supervisi.
· Tanyakan
kepada kader apakah benar ada penduduk di luar IU yang tercatat sebagai
sasaran pengobatan massal di IU yang dilaporkan kemudian keluarkan penduduk
tersebut dari pencatatan.
|
|
Cakupan
pengobatan massal
lebih
rendah dari cakupan
survei
|
·
Jumlah
penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau sudah
berubah.
|
·
Perbaiki
data jumlah penduduk tersebut.
|
|
Cakupan
pengobatan massal
dan
cakupan survey keduanya tinggi
|
·
Sistem
pencatatan sudah baik
·
Masyarakat
dan kader telah termotivasi dengan baik.
·
Semua
aparat yang terlibat dalam pengobatan missal berada di tempat dan bekerja
dengan baik.
|
· Pertahankan hasil pengobatan massal yang sudah baik
tersebut sampai pengobatan tahun berikutnya.
|
· Pendistribusian Obat Filariasis
Tomar & Kusnanto
(2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak pemukiman masyarakat
dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya petugas menjangkau
tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam minum
obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat filariasis merupakan suatu
upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai cakupan pengobatan massal
filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang tinggi.
Untuk itu perlu
dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis yang sesuai dengan
kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal filariasis (Subdit Filariasis
& Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
·
Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Perilaku Minum Obat Filariasis
Perilaku minum obat
merupakan salah satu bentuk nyata dari perilaku kesehatan. Merujuk pada uraian di
atas, respon dari perilaku minum obat adalah tindakan seseorang yang bisa
diamati (overt behavior) berupa tindakan minum obat atau tidak minum
obat. Dikaitkan dengan penelitian ini maka yang dimaksud dengan perilaku minum
obat filariasis adalah respon masyarakat sasaran pengobatan missal filariasis
berupa tindakan minum obat atau tindakan tidak minum obat filariasis. Sedangkan
stimulus dari perilaku minum obat filariasis adalah filariasis serta pemberian
obat filariasis oleh petugas.
Ada beberapa faktor yang
berhubungan dengan perilaku minum obat filariasis. Faktor-faktor tersebut,
yaitu:
1.
Keturunan
Perilaku
dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organism dipengaruhi oleh faktor
genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor
genetik dan lingkungan merupakan penentu perilaku manusia. Hereditas atau
faktor keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan
perilaku manusia selanjutnya (Notoatmodjo, 1993).
2.
Lingkungan
Perilaku dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam
interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua, yakni faktor intern dan ekstern.
Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya
yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern
meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim,
manusia,
sosial, ekonomi, kebudayaan, dan
sebagainya (Notoatmodjo, 1993).
3. Pendidikan
Kesehatan (Promosi Kesehatan)
Pendidikan
kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan
kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa
dengan adanya pesan tersebut maka masyarakat, kelompok atau individu dapat
memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut
pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku sasaran
(Notoatmodjo, 1993).
Promosi
kesehatan dalam upaya eliminasi filariasis di Indonesia dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup
sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat, serta
terciptanya lingkungan yang kondusif. Keberhasilan pengobatan massal filariasis
tergantung dari kesadaran masyarakat untuk minum obat filariasis sekali setahun
selama minimal 5 tahun. Oleh sebab itu kegiatan promosi kesehatan merupakan
bagian penting dan tidak terpisahkan dari program pengobatan missal filariasis
(Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006f).
4.
Komunikasi Penyuluhan dan
Sosialisasi Pengobatan Massal Filariasis
Komunikasi
di sini diperlukan untuk mengkondisikan faktor-faktor predisposisi. Kurangnya
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit mengakibatkan
mereka tidak berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu
diperlukan komunikasi, pemberian informasi-informasi kesehatan. Untuk
berkomunikasi yang efektif para petugas kesehatan perlu dibekali ilmu
komunikasi, termasuk media komunikasinya (Notoatmodjo, 1993).
Kampanye kesehatan
merupakan inti dari kegiatan pengobatan missal filariasis agar orang mau minum
obat filariasis. Pengobatan massal filariasis merupakan upaya untuk melindungi
masyarakat dari transmisi penularan filariasis tidak terkecuali pada masyarakat
yang sehat, maka perlu dijelaskan mengapa orang yang menjadi sasaran pengobatan
massal filariasis harus minum obat filariasis. Perlu dijelaskan pula ada
kemungkinan terjadinya efek samping obat filariasis setelah minum obat filariasis
pada masyarakat. Masyarakat tanpa penjelasan informasi tentang pengobatan
massal filariasis mungkin tidak mau minum obat filariasis, dan mereka menjadi
berisiko dalam transmisi penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis
Departemen Kesehatan RI, 2007).
5. Pemberdayaan
dan Penggerakkan Masyarakat
Pemberdayaan
dan penggerakkan masyarakat merupakan suatu bentuk pendekatan atau alat yang
memungkinkan masyarakat untuk terlibat bersama dalam kegiatan. Organisasi
masyarakat, sektor pemerintah dan non pemerintah, serta individu tergabung
dalam upaya untuk berkomunikasi, negosiasi dan bekerja sama memaksimalkan
potensi-potensi yang ada untuk kegiatan bersama, perbaikan dan perubahan
sosial. Dalam pengobatan massal filariasis, penggerakkan masyarakat sangat
diperlukan demi keberhasilan program secara keseluruhan. Pengobatan missal filariasis
memerlukan keterlibatan masyarakat untuk minum obat filariasis selama
jangka waktu paling kurang 5 tahun,
maka perlu adanya dukungan masyarakat luas dari semua sektor. Jika dukungan ini
tidak ada ataupun kurang, maka keberhasilan program menghadapi bahaya serius
(Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
6.
Pelatihan
Untuk
mencapai cakupan penerimaan obat filariasis dan perilaku minum obat filariasis
yang optimal, Tenaga Pelaksana Eliminasi filariasis perlu dilengkapi dengan
pengetahuan dan kemampuan dalam merancang Komunikasi, Informasi dan Edukasi
(KIE) yang inovatif untuk menurunkan tingkat ketidakpatuhan minum obat filariasis
pada masyarakat. Sebelum melakukan pengobatan masal filariasis, setiap putaran
pengobatan massal filariasis dilakukan orientasi dan pelatihan Tenaga Pelaksana
Eliminasi filariasis. Materi yang diberikan adalah pengetahuan tentang penyebab
filariasis, transmisi filariasis, pencegahan filariasis, perlunya minum obat filariasis
dan meningkatkan kemampuan TPE dalam menjelaskan efek samping obat filariasis
yang mungkin terjadi. TPE akan melanjutkan informasi yang diperolehnya kepada
masyarakat binaannya melalui komunikasi interpersonal (Nandha, dkk.,2007).
·
Pendistribusian Obat
Filariasis
Tomar
& Kusnanto (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak
pemukiman masyarakat dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya
petugas menjangkau tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku
masyarakat dalam minum obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat
filariasis merupakan suatu upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai
cakupan pengobatan massal filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang
tinggi. Untuk itu perlu dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis
yang sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal
filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
·
Faktor Penguat
1.
Komitmen Pejabat Politik dan Pemerintah Daerah
Adanya komitmen dari pejabat politik dan
pemerintah daerah berhubungan dengan keberhasilan pengobatan massal filariasis
dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku masyarakat untuk minum
obat filariasis. Komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten dibutuhkan dalam
membiayai pelaksanaan pengobatan massal filariasis selama jangka waktu 5 – 7
tahun (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk.,
2002). Menurut Notoatmodjo (2003), undang-undang dan peraturan baik dari pusat
maupun dari daerah yang terkait dengan kesehatan dapat memperkuat perilaku
masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan.
2.
Kontrol Petugas Pemberi Obat Filariasis
Petugas pemberi obat filariasis harus memastikan
bahwa obat-obat yang diberikan dalam
pengobatan massal filariasis ditelan penerima obat secara langsung di depan petugas tersebut (Subdit
Filariasis & Schistosomiasis Departemen
Kesehatan RI, dkk., 2002). Kebijakan yang dikeluarkan Dinas Kesehatan
Kepulauan Mentawai yang mengijinkan
obat diberikan kepada masyarakat untuk diminum di rumah sebelum tidur, justru
semakin melonggarkan masyarakat dalam minum obat filariasis. Kebijakan tersebut
merupakan upaya untuk meminimalkan efek samping yang biasanya terjadi kira-kira
4 jam setelah minum obat, diharapkan dengan
mengijinkan
masyarakat untuk minum obat di rumah sebelum tidur dapat mengurangi efek
samping yang diderita karena orang tersebut akan mengantuk dan tidur. Namun,
kebijakan ini melemahkan kontrol petugas terhadap masyarakat untuk minum obat
filariasis. Kontrol petugas yang lemah dapat mengakibatkan efektifitas.
Contoh program perngobatan missal Filariasis perkabutan :
PROGRAM MINUM OBAT
MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS PUTARAN 4 TAHUN 2012 DI KABUPATEN BANDUNG FILARIASIS
adalah penyakit infeksi yang bersipat menahun, disebabkan oleh CACING FILARIA
ditularkan oleh NYAMUK. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat menetap berupa
PEMBESARAN KAKI, LENGAN, KANTONG BUAH ZAKAR DAN PAYUDARA. Bisa menyerang SEMUA
ORANG, BUKAN KUTUKAN, GUNA-GUNA ATAU KETURUNAN.
Kabupaten Bandung
merupakan salah satu daerah endemis Filariasis, oleh sebab itu ada Program
Minum Obat MassalPencegahan (POMP) Filariasis selama 5 tahun berturut-turut
sejak tahun 2009 - tahun 2013, tahun 2012 ini merupakan putaran ke 4.
Pelaksanaan POMP
Filariasis akan dilaksanakan serentak mulai tanggal 15 Oktober sd 15 November
2012 di seluruh wilayah kabupaten Bandung dengan jumlah sasaran sebanyak
2.525.000 orang yang berusia 2 tahun
sampai 65 tahun. Tenaga pelaksana melibatkan dokter 120 orang, tenaga paramedis
800 orang, kader terlatih 16.600 orang, yang tersebar pada 4.150 POS Minum
Obat. Direncanakan Bapak Bupati akan melaksakan pencanangan POMP Filariasis
hari senin tanggal 15 Oktober 2012, jam 13.00 di Aula Kecamatan Banjaran.
Obat yang diminum adalah
Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol yang dikenal sebagai OBAT
CACING, yang akan dibagikan secara cuma-cuma alias ....... GRATISSSS
!!!!!!...... . Bagi anak usia <2 tahun, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Sakit
Berat, Kasus Kronis Filariasis, Balita Marasmus, kwasiorkor, gizi buruk
sebaiknya pengobatannya ditunda.
Aturan minum obat :
harus dalam keadaan sehat, obat diminum harus sesudah makan, waktu minum obat
sore hari/ malam.
Dengan mengikuti minum
obat cacing Pencegahan Filariasis berarti kita akan mencegah terjadinya
kecacatan menetap pada 32.000 orang masyarakat kabupaten bandung.
Kesimpulan
Limphatik filariasis
(LF) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Filariasis (penyakit
kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakitmenular dan
menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui
gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga
saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex,
Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap
berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan kelamin. Filariasis merupakan jenis
penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang
dulunyasempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus
penderita filariasiskhas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan
tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan
di Indonesia pada tahun 1877, setelahitu tidak muncul dan sekarang belum
diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasistersebar luas hampir di seluruh
Propinsi di Indonesia.
Pengobatan massal
filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan
pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis
filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan,
setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005).
Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan
microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan
massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk,
sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis &
Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).
DAFTAR PUSTAKA
·
Anonim, 2012. Diposkan oleh : Administrator . Diunduh dari : http:// kesehatan.
bandungkab. go.id/
·
Faktor-faktor literature.pdf
Resume:
Filariasis ( penyakit
kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi
sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan
kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat
menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat
menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki – laki.
Cacing filaria berasal
dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan
infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia
Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan
berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang
kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Mikrofilnya dilindungi
oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya. Aktifitas
mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan pada siang hari. Pada
malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam sistem pembuluh darah
tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen
yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat sinar matahari maka
mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler paru – paru. Ketika
tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam sistem pembuluh
darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan
sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 –
10 tahun.
Soal:
(a)
Pengobatan
filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan
menggunakan obat Diethyl
Citrate (DC).
(b)
Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang
mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan
lain.
(c)
Penyakit
filariasis tidak menyebabkan cacat tetap.
(d)
Penyakit
filariasis ditularkan melalui udara.
1. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c.
(b) dan (d) benar
d. Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a)
Penyakit filariasis disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial :
Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori
(b)
Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang
mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan
lain
(c)
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang
tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva
stadium III (L3).
(d)
Kumpulan cacing filaria dewasa ini
tidak menjadi penyebab
penyumbatan pembuluh limfe
2. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b.
(a) dan (c) benar
c. (b) dan (d) benar
d. Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a) Penyakit
kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing ascaris lumbricoides yang menyumbat
pembulurh darah sehingga mengakibatkan pembengkakan.
(b) Filariasis mudah
menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial
rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus
elephantiasis.
(c) Tiga spesies filaria
yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia
Malayi, dan filariasis.
(d) Seseorang dapat tertular
atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif
yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3).
3. Pernyataan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c.
(b) dan (d) benar
d. Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a)
Pengambilan darah dilakukan
pada malam hari karena mikrofilaria aktif pada malam hari dan banyak beredar
dalam sistem pembuluh darah
(b)
Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang
mengelilingi tubuhnya
(c)
Mikrofilaria aktiv pada
malam hari karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka
terhadap sinar matahari
(d) Mikrofilaria ini akan
muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya
infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
4. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c. (b) dan (d) benar
d.
Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a) Hospes cacing filaria
i
Pengobatan Masal
Dengan Implementasi Unit Perkabupaten
(Filariasis)
A. Pendahulan
Limphatik filariasis (LF) merupakan salah satu penyakit endemik di
Indonesia. Filariasis
(penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah
penyakitmenular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang
ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor
penular filariasis hingga saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari
genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat
menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan
kelamin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang
dulunya sempat ada, kemudian
tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan di
wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di
Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877,
setelahitu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya.
Filariasistersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia.
Berdasarkan hasil survei survei pada
tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di
231Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus
kronis 6233 orang.Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh
pemerintah semata.Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara
aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan,
pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan program Indonesia Sehat
berkeadilan Tahun 2015 dapat terwujud salah satunyaa dalah terbebas dari endemi
filariasis.
Penyakit
kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing filaria yang menyumbat
pembulurh darah sehingga mengakibatkan
pembengkakan. Cacing filaria terdapat
didalam tubuh nyamuk
culex yang biasa berkembang biak di air kotor yang
tergenang seperti got, comberan, dan rawa. Untuk mencegahnya yaitu mengalirkan
air agar tidak ada nyamuk yang bertelur di tempat tersebut.
Alur penularan
penyakit kaki gajah
dapat dijelaskan pada
diagram dibawah ini
|
![]() |
||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||
Latar Belakang
Untuk memberantas
filariasis sampai tuntas, WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global ( The Global
Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by The
Year 2020 ) yaitu program pengeliminasian filariasis secara masal. Program ini
dilaksanakan melalui pengobatan masal dengan DEC dan Albendazol setahun
sekali selama 5 tahun dilokasikan yang endemis dan perawatan kasus klinis untuk
mencegah kecacatan. WHO sendiri telah menyatakan filariasis sebagai urutan
kedua penyebab cacat permanen di dunia. Di Indonesia sendiri, tela h
melaksanakan eliminasi filariasis secara bertahap dimulai pada tahun 2002
di 5 kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap
tahunnya.
Upaya pemberantasan filariasis
tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, masyarakat juga harus ikut
memberantas penyakit ini sebagai secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme
penyebarab filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya diharapkan
program Indonesia Sehat dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari
endemi filariasis.
Pengobatan massal
filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan
pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis
filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan,
setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005).
Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan
microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan
massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk,
sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis &
Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).
Tujuan pengobatan massal
adalah memutus rantai penularan filariasis dengan menurunkan mikrofilaria rate
menjadi < 1 % dan menurunkan kepadatan rata-rata mikrofilaria dalam darah.
Pengobatan massal filariasis untuk sementara ditunda bagi anak berusia kurang
dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, orang yang sedang sakit berat, penderita
kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut, anak dengan marasmus atau
kwashiorkor, lanjut usia. Dosis obat ditentukan berdasarkan kelompok umur
sesuai tabel di bawah ini (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen
Kesehatan RI, 2006d).
Pembahasan
· Pengertian
Filariasis
Filariasis ( penyakit
kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi
sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan
kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat
menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat
menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki – laki.
Cacing filaria berasal
dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan
infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia
Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan
berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang
kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Pada Wuchereria
Bancrofti, mikrofilarianya berukuran ± 250µ, cacing betina dewasa berukuran
panjang 65 – 100 mm dan cacing jantan dewasa berukuran panjang ± 40 mm ( Juni
Prianto L. A . dkk., 1999 ). Diujung daerah kepala membesar, mulutnya berupa
lubang sederhana tanpa bibir ( Oral stylet ), sedangkan pada Brugia Malayi dan
Brugia Timori, mikrofilnya berukuran ± 280µ. Cacing dewasa jantan panjangnya 23
mm dan cacing betina dewasa panjangnya 39 mm ( Juni Prianto L. A . dkk., 1999
). Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi
tubuhnya. Aktifitas mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan
pada siang hari. Pada malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam
sistem pembuluh darah tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki
granula – granula flouresen yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat
sinar matahari maka mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler
paru – paru. Ketika tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke
dalam sistem pembuluh darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran
darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat
bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
Hospes cacing filaria
ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi
sumber infeksi bagi orang lain. Pada umumnya laki – laki lebih mudah
terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan mendapat infeksi (
eksposure ). Hospes reservoar adalah hewan yang dapat menjadi hospes bagi
cacing filaria, misalnya Brugia Malayi yang dapat hidup pada kucing, kera, kuda
dan sapi.
Banyak spesies nyamuk
yang ditemukan sebagai vektor filariasis, tergantung pada jenis cacing
filarianya dan habitat nyamuk itu sendiri. Wuchereria Bancrofti yang terdapat
di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus, menggunakan air
kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya. Wuchereria Bancrofti yang ada
di daerah pedesaan dapat ditularkan oleh berbagai macam spesies nyamuk. Di
Irian Jaya,Wuchereria bancrofti terutama
ditularkan oleh Anopheles farauti yang menggunakan bekas jejak
kaki binatang untuk tempat perindukannya. Di daerah pantai di NTT, Wuchereria bancrofti ditularkan
oleh Anopheles subpictus. Brugia malayi yang hidup pada manusia
dan hewan ditularkan oleh berbagai spesies Mansoniaseperti Mansonia
uniformis, Mansonia bonneae, dan Mansonia dives yang
berkembang biak di daerah rawa di Sumatera, Kalimantan, dan Maluku. Di daerah
Sulawesi, Brugia malayi ditularkan oleh Anopheles
barbirostrisyang menggunakan sawah sebagai tempat perindukannya. Brugia
timori ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang
berkembang biak di daerah sawah, baik di dekat pantai maupun di daerah
pedalaman. Brugia timori hanya ditemukan di daerah NTT dan
Timor Timur.
· Gejala klinis
filariais antara lain adalah berupa :
1.
Demam berulang-ulang selama 3 – 5 hari, demam dapat hilang bila beristirahat
dan muncul kembali setelah bekerja berat.
2.
Pembengkakan kelenjar limfe (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis)
yang tampak kemerahan. Diikuti dengan radang saluran kelenjar limfe yang terasa
panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah
ujung (Retrograde lymphangitis) yang dapat pecah dan mengeluarkan nanah
serta darah.
3.
Pembesaran tungkai, buah dada, dan buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan
terasa panas (Early lymphodema). Gejala klinis yang kronis berupa
pembesaran yang menetap pada tungkai, lengan, buah dada, dan buah zakar
tersebut.
Seseorang yang menderita
filariasis dapat didiagnosis secara klinis dengan cara sebagai berikut :
1) Deteksi
parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah pada pemeriksaan sediaan
darah tebal. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari karena mikrofilaria
aktif pada malam hari dan banyak beredar dalam sistem pembuluh darah. Setelah
membuat sedian darah maka dilakukan pemeriksaan sedian tersebut. Jika pada
sediaan ditemukan mikrofilaria, maka orang tersebut telah terinfeksi cacing filaria.
2) Pemeriksaan dengan
ultrasonografi (USG) pada skrotum.
· KRITERIA FILARIASIS
Filariasis mudah
menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial
rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus elephantiasis, atau adanya
2 atau lebih kasus elephantiasis di suatu wilayah pada jarak terbang nyamuk
yang mempunyai riwayat menetap bersama/berdekatan pada suatu wilayah selama
lebih dari satu tahun. Berdasarkan ketentuan WHO, jika ditemukan mikro filarial
rate ≥ 1% pada
satu wilayah maka daerah
tersebut dinyatakan endemis dan harus segera diberikan pengeobatan secara masal
selama 5 tahun berturut-turut.
Di indonesia filarialis
telah tersebar luas hampir di semua propinsi, berdasarkan laporan dari daerah
dan hasil survey pada tahun 2000 tercatat sebanyak 6500 kasus kronis di 1553
desa pada 231 kabupaten atau 26 propinsi. Pada tahun 2005 kasus kronis dilaporkan
sebanyak 10.237 orang yang tersebar di 373 kabupaten/kota di 33 propinsi.
Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tanggal
8 April 2002 Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mencanangkan dimulainya
eliminasi penyakit Kaki Gajah di Indonesia dan telah menetapkan eliminasi Kaki
Gajah sebagai salah satu program prioritas. Sebagai pedoman Pengendalian
Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomer : 1582/ MENKES/SK/XI/2005 Tanggal 18 Nopember 2005.
· Mekanisme
Terjadinya Filariasis
Seseorang dapat tertular
atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif
yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk tersebut
mendapatkan mikrofilaria sewaktu menghisap darah penderita atau binatang
reservoar yang mengandung mikrofilaria. Siklus penularan filariasis ini melalui
dua tahap , yaitu mosquito satges atau tahap perkembangan
dalam tubuh nyamuk (vektor) danhuman stages atau tahap perkembangan
dalam tubuh manusia (hospes) atau binatang (hospes reservoar).
Di dalam tubuh nyamuk,
mikrofilaria berselubung (yang didapatkannya ketika menggigit penderita
filariasis), akan melepaskan selubung tubuhnya yang kemudian bergerak menembus
perut tengah lalu berpindah tempat menuju otot dada nyamuk. Larva ini disebut
larva stadium I (L1). L1 kemudian berkembang hingga menjadi L3 yang membutuhkan
waktu 12 – 14 hari. L3 kemudian bergerak menuju probisis nyamuk. Ketika nyamuk
yang mengandung L3 tersebut menggigit manusia, maka terjadi infeksi
mikrofilaria dalam tubuh orang tersebut. Setelah tertular L3, pada tahap
selanjutnya di dalam tubuh manusia, L3 memasuki pembuluh limfe dimana L3 akan
tumbuh menjadi cacing dewasa, dan berkembangbiak menghasilkan mikrofilaria baru
sehingga bertambah banyak. Kumpulan cacing filaria dewasa ini menjadi penyebab
penyumbatan pembuluh limfe. Aliran sekresi kelenjar limfe menjadi terhambat dan
menumpuk di suatu lokasi. Akibatnya terjadi pembengkakan kelenjar limfe terutama
pada daerah kaki, lengan maupun alat kelamin yang biasanya disertai infeksi
sekunder dengan fungi dan bakteri karena kurang terawatnya bagian
lipatan-lipatan kulit yang mengalami pembengkakan tersebut.
· PENYEBAB FILARIASIS
Penyakit ini disebabkan
oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia
Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia terutama
dalam kelenjar getah bening dan darah. Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar
getah bening manusia selama 4 - 6 tahun dan dalam tubuh manusia cacing dewasa
betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar dalam darah
terutama malam hari.
Penyebarannya diseluruh Indoensia baik di pedesaan maupun
diperkotaan..Nyamuk merupakan vektor filariasis Di Indonesia ada 23 spesies
nyamuk yang diketahui bertindak sebagai vektor dari genus: mansonia,
culex, anopheles, aedes dan armigeres.
· W. bancrofti perkotaan
vektornya culex quinquefasciatus
· W. bancrofti pedesaan: anopheles,
aedes dan armigeres
· B. malayi : mansonia
spp, an.barbirostris.
· B. timori : an.
barbirostris.
Mikrofilaria mempunyai
periodisitas tertentu tergantung dari spesies dan tipenya.Di Indonesia semuanya
nokturna kecuali type non periodic Secara umum daur hidup ketiga spesies sama
Tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan lingkungan habitatnya.
( Got, sawah, rawa, hutan ).
Cacing
Dewasa Atau Makrofilaria
o Berbentuk
silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe
o Ukuran
55 – 100 mm x 0,16 mm
o Cacing
jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm
o Berkembang
secara ovovivipar
Mikrofilaria
· Merupakan
larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu.
· Mempunyai
sarung. 200 – 600 X 8 um
Didalam tubuh nyamuk mikrofilaria
yang diisap nyamuk akan berkembang dalam otot nyamuk.Setelah 3 hari menjadi
larva L1, 6 hari menjadi larva L2, 8-10 hari untuk brugia atau
10 – 14 hari untuk wuchereria akan menjadi larva L3. Larva L3
sangat aktif dan merupakan larva infektif.ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk (tetapi tidak seperti malaria). Manusia merupakan hospes
definitive Hampir semua dapat tertular terutama pendatang dari daerah
non-endemik Beberapa hewan dapat bertindak sebagai hospes reservoir.
·
Faktor yang mempengaruhi :
· Lingkungan fisik :Iklim, Geografis, Air
dan lainnnya,
· Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang
mempengaruhi penularan; hutan, reservoir, vector.
· lingkungan social –
ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat Istiadat, Kebiasaan dsb,
· Ekonomi: Cara Bertani, Mencari
Rotan, Getah Dsb.
Penularan
dapat terjadi apabila ada 5 unsur yaitu sumber penular (manusia dan hewan), Parasit,
Vektor, Manusia yang rentan, Lingkungan (fisik, biologik dan sosial-ekonomibudaya).
· Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis
1.
Upaya Pencegahan Filariasis
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari
gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu
sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk,
mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang
menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik
nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala
pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara
diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu
sendiri dengan cara 3M.
2.
Upaya Pengobatan Filariasis
Pengobatan filariasis harus
dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obatDiethyl
Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan
cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Hingga saat ini, DEC adalah
satu-satunya obat yang efektif, aman, dan relatif murah. Untuk filariasis
akibat Wuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat
badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis akibat Brugia
malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg
berat badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam,
menggigil, sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang
disebabkan oleh Brugia malayi dan Brugia
timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat. Sehingga, untuk
pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi pengobatan dilakukan dalam
waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi dapat juga dilakukan dengan dosis
tunggal DEC dan Albendazol 400mg, diberikan setiap tahun selama 5 tahun.
Pengobatan kombinasi meningkatkan efek filarisida DEC.
Obat lain yang juga dipakai adalah
ivermektin. Ivermektin adalah antibiotik semisintetik dari golongan makrolid
yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya
membunuh mikrofilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding
DEC. Terapi suportif berupa pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian
DEC dan antibiotika, khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus
tertentu dapat juga dilakukan pembedahan.
3. Upaya Rehabilitasi Filariasis
Penderita filariasis
yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak
bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar
tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar
tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.
· Cakupan Pengobatan
Massal Filariasis
Cakupan
pengobatan massal filariasis dilaporkan oleh TPE filariasis, puskesmas dan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam
menilai keberhasilan cakupan ini, yaitu:
A.
Berdasarkan Total Penduduk di Kabupaten. Cakupan ini dapat menjelaskan jumlah
penduduk yang beresiko untuk diobati dan aspek epidemiologinya.
Cakupan ini dibuat
setiap tahun, dengan perhitungan sebagai berikut :
Jumlah penduduk minum
obat di Kabupaten*100%
Jumlah seluruh penduduk
di Kabupaten
B.
Berdasarkan Jumlah Penduduk Sasaran Pengobatan di Kabupaten. Cakupan ini dapat
menjelaskan efektivitas pengobatan massal.
Jumlah
muinum obat di Kabupaten*100%
Jumlah
penduduk sasaran pengobatan missal
· Survei Cakupan Pengobatan Massal Filariasis
Tujuan dari survei
cakupan adalah untuk menilai besarnya cakupan pengobatan massal yang dilaporkan
TPE filariasis, puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pelaksana survei
cakupan yaitu Dinas Kesehatan Provinsi atau badan independen lainnya yang
dilakukan satu bulan setelah pengobatan missal selesai. Survei ini dilaksanakan
minimal satu kali selama putaran pengobatan massal.
Metoda yang digunakan
adalah Cluster Survey (30 cluster) yang diadaptasi dari Expanded
Programme on Immunization (EPI) WHO dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Hitung jumlah desa dan buat daftar nama-nama desa
di Kabupaten/Kota yang akan disurvei.
b. Catat jumlah penduduk di setiap desa.
c. Hitung jumlah penduduk kumulatif setiap desa di
Kabupaten/Kota.
d. Tentukan sampling interval dengan membagi jumlah
penduduk total Kabupaten/Kota dengan 30.
e. Pilih angka pertama sebagai starting point dengan
cara memilih secara acak angka dari 1 sampai dengan angka sampling interval. Di
kolom desa yang mana letak angka yang terpilih tersebut, itulah desa pertama
yang akan disurvei.
f.
Tentukan desa selanjutnya yang akan disurvei dengan menambah starting point
dengan sampling interval. Angka yang didapat kemudian ditambahkan lagi dengan
sampling interval, begitu seterusnya untuk menentukan desa yang akan disurvei
sampai diperoleh 30 desa.
g.
Setelah diperoleh 30 desa yang akan disurvei, secara acak pilih rumah pertama
yang akan disurvei di setiap desa kemudian dilanjutkan ke rumah disekitarnya
yang berada paling dekat dari rumah yang pertama dipilih.
h.
Survei dilaksanakan dengan menggunakan formulir kuesioner survei cakupan.
i.
Setelah survei selesai dilaksanakan, didapatkan data cakupan pengobatan missal
yang dihitung dengan menggunakan rumus:
Jumlah
Individu yang minum obat * 100%
Jumlah
Individu yang di survey
· Penilaian Hasil Cakupan Pengobatan Massal & Survei
Cakupan di Implementation Unit (IU)
|
Penemuan
|
Yang Harus Diperhatikan
|
Tindak Lanjut
|
|
Cakupan pengobatan missal dan cakupan
survey keduanya rendah
|
· Cakupan
geografis adalah desa yang tidak diobati.
· Cakupan
pengobatan massal pada tiap kelompok umur (<2Th, 2-5Th, 6-14Th dan >14
Th) adakah kelompok umur yang tidak diobati.
· Alasan
penduduk sasaran pengobatan yang tidak meminum obatnya.
· Survei
Pengetahuan, sikap dan perilaku untuk menilai permasalahan yang ada.
|
·
Tergantung dari masalahnya, mungkin dibutuhkan
pengobatan massal di wilayah yang belum diobati.
·
Memperbaharui penggerakan di masyarakat agar mau
minum obat filariasis.
·
Memperbaharui motivasi dan kemampuan kader dalam
memberikan obat filariasis melalui training dan supervisi.
|
|
Cakupan
pengobatan massal
lebih
tinggi dari cakupan
survei
|
·
Kader tidak betul melaporkan angka penduduk yang
minum
obat.
· Jumlah
penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau telah
berubah, atau penduduk dari luar IU juga meminum obat dan dicatat sebagai
penduduk di IU.
|
· Memperbaharui
motivasi dan kemampuan kader dalam memberikan obat filariasis melalui
training dan supervisi.
· Tanyakan
kepada kader apakah benar ada penduduk di luar IU yang tercatat sebagai
sasaran pengobatan massal di IU yang dilaporkan kemudian keluarkan penduduk
tersebut dari pencatatan.
|
|
Cakupan
pengobatan massal
lebih
rendah dari cakupan
survei
|
·
Jumlah
penduduk di IU dan jumlah sasaran pengobatan massal tidak betul atau sudah
berubah.
|
·
Perbaiki
data jumlah penduduk tersebut.
|
|
Cakupan
pengobatan massal
dan
cakupan survey keduanya tinggi
|
·
Sistem
pencatatan sudah baik
·
Masyarakat
dan kader telah termotivasi dengan baik.
·
Semua
aparat yang terlibat dalam pengobatan missal berada di tempat dan bekerja
dengan baik.
|
· Pertahankan hasil pengobatan massal yang sudah baik
tersebut sampai pengobatan tahun berikutnya.
|
· Pendistribusian Obat Filariasis
Tomar & Kusnanto
(2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak pemukiman masyarakat
dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya petugas menjangkau
tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam minum
obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat filariasis merupakan suatu
upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai cakupan pengobatan massal
filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang tinggi.
Untuk itu perlu
dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis yang sesuai dengan
kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal filariasis (Subdit Filariasis
& Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
·
Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Perilaku Minum Obat Filariasis
Perilaku minum obat
merupakan salah satu bentuk nyata dari perilaku kesehatan. Merujuk pada uraian di
atas, respon dari perilaku minum obat adalah tindakan seseorang yang bisa
diamati (overt behavior) berupa tindakan minum obat atau tidak minum
obat. Dikaitkan dengan penelitian ini maka yang dimaksud dengan perilaku minum
obat filariasis adalah respon masyarakat sasaran pengobatan missal filariasis
berupa tindakan minum obat atau tindakan tidak minum obat filariasis. Sedangkan
stimulus dari perilaku minum obat filariasis adalah filariasis serta pemberian
obat filariasis oleh petugas.
Ada beberapa faktor yang
berhubungan dengan perilaku minum obat filariasis. Faktor-faktor tersebut,
yaitu:
1.
Keturunan
Perilaku
dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organism dipengaruhi oleh faktor
genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor
genetik dan lingkungan merupakan penentu perilaku manusia. Hereditas atau
faktor keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan
perilaku manusia selanjutnya (Notoatmodjo, 1993).
2.
Lingkungan
Perilaku dibentuk melalui suatu proses dan berlangsung dalam
interaksi manusia dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
terbentuknya perilaku dibedakan menjadi dua, yakni faktor intern dan ekstern.
Faktor intern mencakup pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya
yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan faktor ekstern
meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti iklim,
manusia,
sosial, ekonomi, kebudayaan, dan
sebagainya (Notoatmodjo, 1993).
3. Pendidikan
Kesehatan (Promosi Kesehatan)
Pendidikan
kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan
kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa
dengan adanya pesan tersebut maka masyarakat, kelompok atau individu dapat
memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut
pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku sasaran
(Notoatmodjo, 1993).
Promosi
kesehatan dalam upaya eliminasi filariasis di Indonesia dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup
sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat, serta
terciptanya lingkungan yang kondusif. Keberhasilan pengobatan massal filariasis
tergantung dari kesadaran masyarakat untuk minum obat filariasis sekali setahun
selama minimal 5 tahun. Oleh sebab itu kegiatan promosi kesehatan merupakan
bagian penting dan tidak terpisahkan dari program pengobatan missal filariasis
(Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006f).
4.
Komunikasi Penyuluhan dan
Sosialisasi Pengobatan Massal Filariasis
Komunikasi
di sini diperlukan untuk mengkondisikan faktor-faktor predisposisi. Kurangnya
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit mengakibatkan
mereka tidak berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu
diperlukan komunikasi, pemberian informasi-informasi kesehatan. Untuk
berkomunikasi yang efektif para petugas kesehatan perlu dibekali ilmu
komunikasi, termasuk media komunikasinya (Notoatmodjo, 1993).
Kampanye kesehatan
merupakan inti dari kegiatan pengobatan missal filariasis agar orang mau minum
obat filariasis. Pengobatan massal filariasis merupakan upaya untuk melindungi
masyarakat dari transmisi penularan filariasis tidak terkecuali pada masyarakat
yang sehat, maka perlu dijelaskan mengapa orang yang menjadi sasaran pengobatan
massal filariasis harus minum obat filariasis. Perlu dijelaskan pula ada
kemungkinan terjadinya efek samping obat filariasis setelah minum obat filariasis
pada masyarakat. Masyarakat tanpa penjelasan informasi tentang pengobatan
massal filariasis mungkin tidak mau minum obat filariasis, dan mereka menjadi
berisiko dalam transmisi penularan filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis
Departemen Kesehatan RI, 2007).
5. Pemberdayaan
dan Penggerakkan Masyarakat
Pemberdayaan
dan penggerakkan masyarakat merupakan suatu bentuk pendekatan atau alat yang
memungkinkan masyarakat untuk terlibat bersama dalam kegiatan. Organisasi
masyarakat, sektor pemerintah dan non pemerintah, serta individu tergabung
dalam upaya untuk berkomunikasi, negosiasi dan bekerja sama memaksimalkan
potensi-potensi yang ada untuk kegiatan bersama, perbaikan dan perubahan
sosial. Dalam pengobatan massal filariasis, penggerakkan masyarakat sangat
diperlukan demi keberhasilan program secara keseluruhan. Pengobatan missal filariasis
memerlukan keterlibatan masyarakat untuk minum obat filariasis selama
jangka waktu paling kurang 5 tahun,
maka perlu adanya dukungan masyarakat luas dari semua sektor. Jika dukungan ini
tidak ada ataupun kurang, maka keberhasilan program menghadapi bahaya serius
(Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
6.
Pelatihan
Untuk
mencapai cakupan penerimaan obat filariasis dan perilaku minum obat filariasis
yang optimal, Tenaga Pelaksana Eliminasi filariasis perlu dilengkapi dengan
pengetahuan dan kemampuan dalam merancang Komunikasi, Informasi dan Edukasi
(KIE) yang inovatif untuk menurunkan tingkat ketidakpatuhan minum obat filariasis
pada masyarakat. Sebelum melakukan pengobatan masal filariasis, setiap putaran
pengobatan massal filariasis dilakukan orientasi dan pelatihan Tenaga Pelaksana
Eliminasi filariasis. Materi yang diberikan adalah pengetahuan tentang penyebab
filariasis, transmisi filariasis, pencegahan filariasis, perlunya minum obat filariasis
dan meningkatkan kemampuan TPE dalam menjelaskan efek samping obat filariasis
yang mungkin terjadi. TPE akan melanjutkan informasi yang diperolehnya kepada
masyarakat binaannya melalui komunikasi interpersonal (Nandha, dkk.,2007).
·
Pendistribusian Obat
Filariasis
Tomar
& Kusnanto (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa jauhnya jarak
pemukiman masyarakat dari tempat pelaksanaan pengobatan massal dan sulitnya
petugas menjangkau tempat pemukiman masyarakat berhubungan dengan perilaku
masyarakat dalam minum obat filariasis. Efisiensi sistem distribusi obat
filariasis merupakan suatu upaya yang dipertimbangkan untuk dapat mencapai
cakupan pengobatan massal filariasis dan perilaku minum obat filariasis yang
tinggi. Untuk itu perlu dipertimbangkan pendekatan distribusi obat filariasis
yang sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan pengobatan massal
filariasis (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk., 2002).
·
Faktor Penguat
1.
Komitmen Pejabat Politik dan Pemerintah Daerah
Adanya komitmen dari pejabat politik dan
pemerintah daerah berhubungan dengan keberhasilan pengobatan massal filariasis
dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku masyarakat untuk minum
obat filariasis. Komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten dibutuhkan dalam
membiayai pelaksanaan pengobatan massal filariasis selama jangka waktu 5 – 7
tahun (Subdit Filariasis & Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, dkk.,
2002). Menurut Notoatmodjo (2003), undang-undang dan peraturan baik dari pusat
maupun dari daerah yang terkait dengan kesehatan dapat memperkuat perilaku
masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan.
2.
Kontrol Petugas Pemberi Obat Filariasis
Petugas pemberi obat filariasis harus memastikan
bahwa obat-obat yang diberikan dalam
pengobatan massal filariasis ditelan penerima obat secara langsung di depan petugas tersebut (Subdit
Filariasis & Schistosomiasis Departemen
Kesehatan RI, dkk., 2002). Kebijakan yang dikeluarkan Dinas Kesehatan
Kepulauan Mentawai yang mengijinkan
obat diberikan kepada masyarakat untuk diminum di rumah sebelum tidur, justru
semakin melonggarkan masyarakat dalam minum obat filariasis. Kebijakan tersebut
merupakan upaya untuk meminimalkan efek samping yang biasanya terjadi kira-kira
4 jam setelah minum obat, diharapkan dengan
mengijinkan
masyarakat untuk minum obat di rumah sebelum tidur dapat mengurangi efek
samping yang diderita karena orang tersebut akan mengantuk dan tidur. Namun,
kebijakan ini melemahkan kontrol petugas terhadap masyarakat untuk minum obat
filariasis. Kontrol petugas yang lemah dapat mengakibatkan efektifitas.
Contoh program perngobatan missal Filariasis perkabutan :
PROGRAM MINUM OBAT
MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS PUTARAN 4 TAHUN 2012 DI KABUPATEN BANDUNG FILARIASIS
adalah penyakit infeksi yang bersipat menahun, disebabkan oleh CACING FILARIA
ditularkan oleh NYAMUK. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat menetap berupa
PEMBESARAN KAKI, LENGAN, KANTONG BUAH ZAKAR DAN PAYUDARA. Bisa menyerang SEMUA
ORANG, BUKAN KUTUKAN, GUNA-GUNA ATAU KETURUNAN.
Kabupaten Bandung
merupakan salah satu daerah endemis Filariasis, oleh sebab itu ada Program
Minum Obat MassalPencegahan (POMP) Filariasis selama 5 tahun berturut-turut
sejak tahun 2009 - tahun 2013, tahun 2012 ini merupakan putaran ke 4.
Pelaksanaan POMP
Filariasis akan dilaksanakan serentak mulai tanggal 15 Oktober sd 15 November
2012 di seluruh wilayah kabupaten Bandung dengan jumlah sasaran sebanyak
2.525.000 orang yang berusia 2 tahun
sampai 65 tahun. Tenaga pelaksana melibatkan dokter 120 orang, tenaga paramedis
800 orang, kader terlatih 16.600 orang, yang tersebar pada 4.150 POS Minum
Obat. Direncanakan Bapak Bupati akan melaksakan pencanangan POMP Filariasis
hari senin tanggal 15 Oktober 2012, jam 13.00 di Aula Kecamatan Banjaran.
Obat yang diminum adalah
Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol yang dikenal sebagai OBAT
CACING, yang akan dibagikan secara cuma-cuma alias ....... GRATISSSS
!!!!!!...... . Bagi anak usia <2 tahun, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Sakit
Berat, Kasus Kronis Filariasis, Balita Marasmus, kwasiorkor, gizi buruk
sebaiknya pengobatannya ditunda.
Aturan minum obat :
harus dalam keadaan sehat, obat diminum harus sesudah makan, waktu minum obat
sore hari/ malam.
Dengan mengikuti minum
obat cacing Pencegahan Filariasis berarti kita akan mencegah terjadinya
kecacatan menetap pada 32.000 orang masyarakat kabupaten bandung.
Kesimpulan
Limphatik filariasis
(LF) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia. Filariasis (penyakit
kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakitmenular dan
menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui
gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga
saat ini telahdiketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex,
Mansonia, Aedes danArmigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap
berupa pembesaran kaki, tangan, danorgan kelamin. Filariasis merupakan jenis
penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang
dulunyasempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus
penderita filariasiskhas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan
tropis (Abercrombie et al , 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan
di Indonesia pada tahun 1877, setelahitu tidak muncul dan sekarang belum
diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasistersebar luas hampir di seluruh
Propinsi di Indonesia.
Pengobatan massal
filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis dengan
pendekatan pengobatan massal terhadap semua penduduk di daerah endemis
filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan,
setiap tahun selama minimal lima tahun berturut-turut (Ullyartha, 2005).
Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan
microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota. Pengobatan
massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk,
sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Subdit Filariasis &
Schistosomiasis Departemen Kesehatan RI, 2006d).
DAFTAR PUSTAKA
·
Anonim, 2012. Diposkan oleh : Administrator . Diunduh dari : http:// kesehatan.
bandungkab. go.id/
·
Faktor-faktor literature.pdf
Resume:
Filariasis ( penyakit
kaki gajah ) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah suatu infeksi
sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam saluran limfe dan
kelenjar limfe manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini bersifat
menahun ( kronis ) dan bila tidak mendapatkan pengobatan akan menimbulkan cacat
menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki – laki.
Cacing filaria berasal
dari kelas Secernentea, filum Nematoda. Tiga spesies filaria yang menimbulkan
infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia
Timori ( Elmer R. Noble, 1989 ). Parasit filaria ditularkan melalui gigitan
berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan siklus hidup yang
kompleks. Anak dari cacing dewasa disebut mikrofilaria.
Mikrofilnya dilindungi
oleh suatu selubung transparan yang mengelilingi tubuhnya. Aktifitas
mikrofilaria sering terjadi pada malam hari dibandingkan pada siang hari. Pada
malam hari mikrofilaria dapat ditemukan beredar di dalam sistem pembuluh darah
tepi. Hal ini terjadi karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen
yang peka terhadap sinar matahari. Bila terdapat sinar matahari maka
mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam kapiler – kapiler paru – paru. Ketika
tidak ada sinar matahari, mikrofilaria akan bermigrasi ke dalam sistem pembuluh
darah tepi. Mikrofilaria ini akan muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan
sampai 1 tahun setelah terjadinya infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 –
10 tahun.
Soal:
(a)
Pengobatan
filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan
menggunakan obat Diethyl
Citrate (DC).
(b)
Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang
mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan
lain.
(c)
Penyakit
filariasis tidak menyebabkan cacat tetap.
(d)
Penyakit
filariasis ditularkan melalui udara.
1. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c.
(b) dan (d) benar
d. Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a)
Penyakit filariasis disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial :
Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori
(b)
Hospes cacing filaria ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang
mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi hewan
lain
(c)
Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis apabila orang
tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva
stadium III (L3).
(d)
Kumpulan cacing filaria dewasa ini
tidak menjadi penyebab
penyumbatan pembuluh limfe
2. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b.
(a) dan (c) benar
c. (b) dan (d) benar
d. Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a) Penyakit
kaki gajah (Elephantiasis) disebabkan oleh cacing ascaris lumbricoides yang menyumbat
pembulurh darah sehingga mengakibatkan pembengkakan.
(b) Filariasis mudah
menular, kriteria penularan penyakit ini adalah jika ditemukan mikrofilarial
rate ≥ 1% pada sample darah penduduk di sekitar kasus
elephantiasis.
(c) Tiga spesies filaria
yang menimbulkan infeksi pada manusia adalah Wuchereria Bancrofti, Brugia
Malayi, dan filariasis.
(d) Seseorang dapat tertular
atau terinfeksi filariasis apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif
yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3).
3. Pernyataan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c.
(b) dan (d) benar
d. Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a)
Pengambilan darah dilakukan
pada malam hari karena mikrofilaria aktif pada malam hari dan banyak beredar
dalam sistem pembuluh darah
(b)
Mikrofilnya dilindungi oleh suatu selubung transparan yang
mengelilingi tubuhnya
(c)
Mikrofilaria aktiv pada
malam hari karena mikrofilaria memiliki granula – granula flouresen yang peka
terhadap sinar matahari
(d) Mikrofilaria ini akan
muncul di peredaran darah pada waktu 6 bulan sampai 1 tahun setelah terjadinya
infeksi dan dapat bertahan hidup hingga 5 – 10 tahun.
4. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c. (b) dan (d) benar
d.
Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
(a) Hospes cacing filaria
ini dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi
sumber infeksi bagi orang lain
(b) . Pada umumnya laki –
laki lebih mudah terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan
mendapat infeksi ( eksposure )
(c) Wuchereria Bancrofti
yang terdapat di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus,
menggunakan air kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya
(d) Parasit filaria
ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan
siklus hidup yang kompleks
5. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c. (b) dan (d) benar
d.
Semua opsi benar
e. Semua opsi salah
ni dapat berupa hewan dan atau manusia yang mengandung parasit dapat menjadi
sumber infeksi bagi orang lain
(b) . Pada umumnya laki –
laki lebih mudah terinfeksi, karena memiliki lebih banyak kesempatan
mendapat infeksi ( eksposure )
(c) Wuchereria Bancrofti
yang terdapat di daerah perkotaan ditularkan oleh Culex Quinquefasciatus,
menggunakan air kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya
(d) Parasit filaria
ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk, memiliki stadium larva, dan
siklus hidup yang kompleks
5. Pertanyaan yang benar....
a. (a), (b) dan (c) benar
b. (a) dan (c) benar
c. (b) dan (d) benar
d.
Semua opsi benar
e. Semua opsi salah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar